Suara Tenang di Ujung Telpon: Kisah Mereka yang Tak Terlihat

DIBALIK riuhnya arus mudik Lebaran 2026, ada suara-suara tenang yang bekerja tanpa terlihat. Mereka bukan di jalan, bukan pula di pos pengamanan. Mereka ada di balik sambungan telepon—para operator 110 Polresta Banyumas, yang tetap siaga ketika banyak orang pulang ke rumah.

Salah satunya adalah Bripda Zakiy. Bagi sebagian orang, Lebaran adalah waktu untuk berkumpul, tapi bagi Zakiy, justru menjadi momen untuk lebih dekat dengan masyarakat—meski hanya lewat suara. Setiap panggilan yang masuk bukan sekadar laporan, melainkan harapan. Harapan agar perjalanan tetap aman, agar sampai tujuan tanpa masalah.

“Rasanya senang kalau bisa membantu, apalagi di momen penting seperti mudik. Ada kepuasan tersendiri saat tahu perjalanan mereka jadi lebih lancar,” katanya.

Di ruang yang mungkin tak pernah dilihat pemudik, Zakiy dan rekan-rekannya duduk berjam-jam, mendengarkan cerita orang-orang yang mereka tak kenal. Ada yang panik karena kecelakaan, ada yang kebingungan karena kendaraan mogok di tengah jalan, bahkan ada yang hanya butuh kepastian bahwa bantuan sedang menuju mereka.

Bagi sebagian operator, tugas ini bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah bentuk pengabdian. Setiap ucapan terima kasih dari masyarakat menjadi energi yang menguatkan mereka untuk tetap bertahan di balik headset.

Namun, tidak semua cerita berakhir dengan senyum.

Briptu Ariyanto, salah satu operator lainnya, sering kali ikut larut dalam emosi para penelepon. Ia bukan hanya mendengar, tapi juga merasakan. Ketika ada suara gemetar di ujung telepon, hatinya ikut berdebar. Ketika ada kabar kecelakaan, rasa khawatir itu terasa nyata.

“Saya sering ikut cemas. Apalagi kalau yang telepon sedang dalam kondisi darurat di jalan,” ujarnya pelan.

Di balik itu semua, ada pengorbanan yang tak kecil. Tahun ini, Ariyanto harus melewatkan Lebaran bersama keluarga. Tidak ada ketupat hangat, tidak ada opor buatan orang tua, tidak juga suasana rumah yang biasanya penuh tawa.

“Baju Lebaran saya tahun ini ya seragam dinas ini,” katanya, dengan nada yang tak bisa sepenuhnya menyembunyikan rasa rindu.

Meski begitu, mereka tetap bertahan. Karena mereka tahu, di setiap panggilan yang masuk, ada seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan. Dan di saat itulah, mereka memilih untuk tetap ada.

Di tengah hiruk-pikuk mudik, para operator 110 mungkin tak terlihat. Tapi tanpa mereka, banyak perjalanan bisa terasa lebih panjang dan penuh ketidakpastian. Mereka adalah suara yang menenangkan, penghubung harapan, dan penjaga sunyi di balik kemeriahan Lebaran.