Jatengpress.com,Purworejo-Menjelang Hari Raya Idul Adha 2026, pola masyarakat dalam membeli hewan kurban mulai berubah. Jika sebelumnya banyak warga mencari sapi mendekati hari penyembelihan, kini pembelian justru dilakukan lebih awal agar mendapat harga lebih terjangkau sekaligus stok terbaik.
Fenomena itu terlihat di Alam Indah Farm milik Aji Prasetyo di Desa Ketosari, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Sejak dua bulan sebelum Idul Adha, kandang pembesaran sapi Bali tersebut mulai ramai didatangi calon pembeli dari berbagai daerah.
Menariknya, sapi yang sudah dibeli tidak langsung dibawa pulang. Pembeli dapat menitipkan hewan kurban di kandang peternak hingga hari penyembelihan tanpa dikenai biaya tambahan.
“Beli sekarang boleh, nanti dititipkan di sini sampai hari H juga bisa. Sudah gratis perawatan,” kata Aji saat ditemui di kandangnya, Kamis (7/5/2026).
Layanan penitipan sapi itu dinilai menjadi solusi praktis bagi masyarakat yang tidak memiliki kandang atau tidak sempat merawat hewan kurban sendiri di rumah.
Pembeli cukup memilih sapi, melakukan pembayaran, lalu hewan tetap dipelihara oleh peternak hingga waktu pengiriman.
“Sudah termasuk pemeliharaan dan ongkir sampai tujuan. Jadi pembeli tinggal terima bersih,” ujarnya.
Di tengah suasana sejuk pedesaan Purworejo, aktivitas di Alam Indah Farm kini mulai meningkat dibanding hari biasa. Setiap pagi, Aji bersama keluarganya mencari pakan dari area persawahan dan padang rumput sekitar desa.
Jerami, daun ketela, dedaunan pohon, hingga rumput sawah menjadi pakan utama sapi-sapi Bali yang didatangkan langsung dari Pulau Dewata tersebut.
“Kalau di sini untungnya banyak petani, jadi jerami mudah didapat. Tidak beli, paling hanya tenaga untuk mengambil dan mengangkut,” katanya.
Menurut Aji, sapi Bali kini semakin diminati masyarakat karena dikenal lebih tahan penyakit dengan kualitas daging yang lebih padat dan tulang relatif kecil sehingga cocok untuk kebutuhan kurban.
Permintaan tahun ini disebut meningkat dibanding tahun sebelumnya. Pembeli tidak hanya berasal dari Purworejo, tetapi juga dari Magelang, Kebumen hingga luar provinsi.
“Sekarang banyak yang sudah tahu kualitas sapi Bali. Pembeli dari Magelang juga banyak,” ujarnya.
Harga sapi yang ditawarkan bervariasi mulai Rp21 juta hingga Rp27 juta per ekor tergantung ukuran dan bobot. Untuk sapi seharga sekitar Rp23 juta, bobotnya dapat mencapai 300 kilogram.
Meski harga naik sekitar Rp2 juta dibanding tahun lalu, minat masyarakat tetap tinggi. Banyak pembeli memilih mengamankan sapi lebih awal untuk menghindari kehabisan stok maupun lonjakan harga menjelang Idul Adha.
“Kalau mendekati hari H biasanya stok cepat habis. Jadi sekarang banyak yang pesan lebih awal,” katanya.
Usaha ternak sapi Bali itu telah dirintis Aji sejak 2010. Awalnya hanya menjadi usaha sampingan keluarga sebelum akhirnya berkembang dan dikenal masyarakat luas.
Selama menjalankan usaha ternak dan penggemukan sapi, ia mengaku pernah menghadapi berbagai tantangan, mulai pandemi Covid-19 hingga wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Namun kondisi ternak tahun ini dinilai jauh lebih baik.
“Alhamdulillah sekarang sudah aman, tidak ada PMK lagi,” ucapnya.
Bagi Aji, usaha ternak bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi juga membantu masyarakat mendapatkan hewan kurban sehat tanpa harus repot memelihara sendiri.
“Yang penting pembeli tenang. Sapinya dirawat sampai hari H, jadi masyarakat tidak perlu bingung lagi cari kandang atau pakan,” katanya.
Warga yang ingin membeli sapi Bali di Alam Indah Farm dapat langsung datang ke Desa Ketosari atau menghubungi Aji dan tim pemasarannya.
“Kalau mau ada yang pesan bisa langsung kontak saya,” tutupnya. (*)





