Jatengpress.com, Semarang – Malam Perayaan cap go meh di Kelenteng Tay Kak Sie Semarang berlangsung semarak.
Puncak perayaan tahun baru Imlek 2577 di kelenteng yang terletak di Jalan Gang Lombok 62, Purwodinatan, Semarang Tengah ini menjadi istimewa dengan kehadiran Walikota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti.
Ketua Umum Yayasan Tay Kak Sie Tanto Hermawan, Wakil Ketua Hasan Arifin Baki, sekretaris Ivan Eko Harahap, serta sejumlah pengurus lain dan umat TITD dan tokoh warga Purwodinatan, menyambut dan menemani Walikota yang malam itu mengenakan busana batik merah, didampingi Kepala Dinas Pariwisata Indriyasari.
Ditemani para pengurus dan para umat, Walikota yang duduk menghadap meja bundar menikmati hidangan khas, lontong opor cap go meh, di dalam ruangan utama kelenteng.
Sedangkan warga yang lain duduk di kursi sekitar walikota dan pengurus Tay Kak Sie. Suasanapun terasa hangat dan akrab.
Walikota Agustina Wilujeng nampak menikmati sajian khas lontong opor cap go meh.
Musik hiburan yang kim yang mengalun menghibur tamu, menambah semaraknya suasana di dalam kelenteng yang masuk dalam bangunan cagar budaya yang berdiri sejak abad ke-17 tersebut.
Agustina Wilujeng mengungkapkan rasa bangga dan bahagianya warga Kota Semarang yang terdiri berbagai etnis hidup rukun berdampingan.
Warak Kerukunan dan akulturasi budaya warga berbagai etnis di Semarang disimbolkan dengan hewan imajiner Warak Ngendog, dengan unsur kepala naga, badan kambing, dan kaki onta.
“Ini melambangkan harmoni kehidupan warga unsur etnis Tionghoa, Jawa, dan Arab di Semarang,” kata Walikota.

DI TAY KAK SIE : Walikota Semarang Agustina Wilujeng bersama para pengurus Kelenteng Tay Kak Sie, saat perayaan malam cap go meh di kelenteng tersebut, Jalan Gang Lombok 62, Purwodinatan, Semarang Tengah, Selasa (3/3/2026) malam. Foto : ist
Adapun telur di bawah patung Warak, menyimbolkan bahwa persatuan, kesatuan dan persahabatan bisa menghasilkan sesuatu yang baik yaitu telur.
Di bagian lain Walikota menyampaikan rencana pemerintah yang akan membangun koneksi tiga magnet pariwisata budaya dan sejarah Kota Semarang, yaitu kawasan kota lama, Pecinan, dsn Kampung Melayu. Revitalisasi kota lama yang ramping dilaksanakan, akan dilanjutkan dengan merevitalisasi Pecinan dan kampung Melayu, sehingga menjadi satu rangkaian destinasi wisata budaya yang menarik.
Selain itu, Pemkot juga akan memfasilitasi dibangunnya jembatan di kali Semarang depan Kelenteng Tay Kak Sie, dengan harapan jika dimzkekenteng ztay Kak zsie ada event besar, bisa menampung warga yang datang.
Cap Go Meh dan Lontong Opor
Cap go meh (tanggal 15 malam) merupakan malam penghujung akhir sekaligus merupakan puncak dari rangkaian perayaan baru Imlek yang berlangsung 15 hari, setiap bulan 1 tanggal 15 malam.
Lontong opor cap go meh merupakan masakan khas warga peranakan Tionghoa di Jawa, disajikan pada perayaan cap go meh turun temurun sejak ratusan tahun lampau.
Lontong opor cap go meh memiliki nilai sejarah luhur terkait kerukunan etnis, merupakan simbol akulturasi budaya dan persahabatan warga peranakan Tionghoa dengan warga pribumi (Jawa).
Berangkat dari keinginan untuk berbagi kebahagiaan dengan tetangga dan teman yang beretnis Jawa di hari raya tahun baru Imlek, warga Tionghoa kemudian memasak makanan yang cocok di lidah warga etnis pribumi Jawa. Maka lontong opor menjadi pilihan, kemudian dibagikan atau dikirimkan kepada tetangga yang merupakan warga pribumi.
Salah satu yang khas dari lontong opor cap go meh yang membedakan dengan lontong opor lainnya adalah adanya bumbu sateabing, yaitu bubuk dari kacang goreng yang ditumbuk dan ditaburkan di lontong opor. (CIP)





