Jatengpress.com, Purworejo – Suara notifikasi di ponsel kini kerap menjadi pintu pertama masyarakat memperoleh informasi. Berita hadir dalam bentuk video pendek, siaran langsung, podcast, hingga konten vertikal yang dapat ditonton hanya dalam hitungan detik. Di tengah perubahan tersebut, jurnalisme dituntut beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya.
Jurnalis senior, Jamalul Insan mengajak para wartawan memahami perubahan lanskap media sekaligus memanfaatkan teknologi digital untuk menghasilkan karya jurnalistik yang relevan dengan kebutuhan publik. Hal itu disampaikan saat menjadi pemateri dalam Journalism Fellowship on CSR (JFC) Batch III 2026 pada Rabu (10/6/2026). Sesi bertajuk Jurnalisme Audio Visual Era Digital itu digelar secara online.
Di dalam forum fellowship, Jamalul menggambarkan bagaimana perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat mengonsumsi informasi. Jika dahulu berita identik dengan teks panjang di koran atau portal berita, kini publik semakin akrab dengan konten audio visual yang lebih cepat dan mudah dipahami.
Menurutnya, era digital telah melahirkan sedikitnya tiga tren utama dalam jurnalisme audio visual, yakni mobile journalism (MoJo), video podcast, serta dominasi video vertikal pendek melalui platform seperti TikTok, Shorts, dan Reels.
“Ponsel pintar bukan lagi sekadar alat komunikasi biasa, melainkan stasiun produksi berita mandiri yang siap meliput berita kapan saja,” kata Jamalul.
Ia menjelaskan, mobile journalism memungkinkan seorang jurnalis bekerja lebih gesit di lapangan. Berbekal telepon pintar, wartawan dapat melakukan peliputan, wawancara, pengambilan gambar, hingga mengirimkan laporan secara cepat tanpa harus bergantung pada kru produksi yang besar. Selain lebih efisien, pendekatan ini juga membuat proses wawancara terasa lebih akrab dan tidak intimidatif bagi narasumber.
Perubahan perilaku audiens juga menjadi alasan mengapa media harus mulai memberi perhatian serius pada konten visual. Jamalul mengungkapkan bahwa mayoritas trafik internet global saat ini didominasi oleh video. Kondisi tersebut memaksa media konvensional untuk bertransformasi agar tetap relevan di tengah persaingan platform digital.
“Mayoritas audiens modern lebih memilih mengonsumsi informasi melalui visual yang dinamis dibandingkan teks statis tradisional. Karena itu media harus mampu beradaptasi tanpa meninggalkan prinsip-prinsip jurnalistik,” sebutnya.
Meski teknologi terus berkembang, Jamalul mengingatkan bahwa tujuan utama jurnalisme tidak pernah berubah. Mengutip pemikiran Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, ia menegaskan bahwa jurnalisme merupakan sistem yang dihasilkan masyarakat untuk memasok berita. Sementara tujuan akhirnya adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan publik agar mampu mengambil keputusan dan mengatur dirinya sendiri.
Dalam konteks audio visual, prinsip tersebut harus tetap menjadi fondasi utama. Konten jurnalistik, kata dia, tidak boleh sekadar menarik secara visual, tetapi harus mengedepankan fakta, verifikasi, etika jurnalistik, nilai berita, dan kepentingan publik.
Jamalul kemudian memaparkan ciri produksi konten audio visual jurnalistik di era digital. Selain dituntut cepat dan real-time, konten juga harus mampu hadir di berbagai platform, bersifat interaktif, ramah terhadap pengguna perangkat mobile, serta dikemas secara menarik dan informatif.
Namun kecepatan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Menurut Jamalul, proses produksi tetap harus mengikuti kaidah jurnalistik yang benar, mulai dari tahap perencanaan, riset, penentuan sudut pandang berita, pengambilan gambar dan wawancara, hingga proses penyuntingan serta distribusi konten.
Ia juga menekankan pentingnya kemampuan bercerita (storytelling) dalam konten audio visual. Sebuah karya jurnalistik yang baik harus memiliki pembuka yang kuat, memperkenalkan tokoh dan latar, menghadirkan konflik, menjelaskan proses penyelesaian masalah, hingga memberikan pesan yang membekas di akhir cerita.
“Konten yang baik bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mampu membuat audiens memahami konteks dan merasakan perjalanan cerita yang disampaikan,” jelasnya.
Meski peluang jurnalisme audio visual semakin besar, Jamalul mengingatkan adanya tantangan yang tidak ringan. Persaingan mengejar klik dan viralitas sering kali mendorong lahirnya judul sensasional, penyebaran disinformasi, hingga munculnya teknologi manipulasi seperti deepfake. Karena itu, menurutnya, etika jurnalistik harus tetap menjadi pegangan utama.
“Produksi boleh cepat, platform boleh berubah, tetapi akurasi, objektivitas, dan verifikasi tidak boleh ditinggalkan,” tegasnya.
Bagi Jamalul, masa depan jurnalisme bukan terletak pada siapa yang memiliki teknologi paling canggih, melainkan pada siapa yang mampu memadukan teknologi dengan nilai-nilai jurnalistik yang benar.
Di era ketika setiap orang bisa membuat video dan menyebarkan informasi hanya dengan satu sentuhan jari, wartawan tetap memiliki peran penting sebagai penjaga fakta. Teknologi hanyalah alat. Sementara kepercayaan publik tetap menjadi modal utama yang harus dijaga.
“Fokuslah pada fakta, bukan sensasi. Produksi cepat, tetapi tetap akurat. Itulah kunci agar jurnalisme tetap relevan di era digital,” pungkasnya. (RH)






