PSW Unisri Petakan Tantangan dan Peluang Perempuan Solo Raya Melalui FGD Lintas Sektor

SURAKARTA, Jatengpress.com– Pusat Studi Wanita (PSW) Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Tantangan dan Peluang yang Dihadapi Perempuan Solo Raya” pada Jumat (5/6). Kegiatan yang berlangsung di lingkungan kampus Unisri tersebut menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dari kalangan akademisi, legislatif, pemerintah daerah, organisasi pendamping perempuan, hingga komunitas masyarakat.

FGD dibuka oleh Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unisri Surakarta, Yannie Asrie Widanti, STP, M.Gizi., M.Pd. Dalam sambutannya, Yannie menegaskan pentingnya forum dialog lintas sektor untuk memperkuat upaya pemberdayaan perempuan di wilayah Solo Raya.

“Forum ini menjadi ruang yang sangat penting untuk berbagi perspektif, pengalaman, dan gagasan. Kami berharap diskusi yang berlangsung dapat menghasilkan masukan yang bermanfaat bagi pengembangan program dan kolaborasi yang lebih luas di masa mendatang,” ujarnya.

Ketua PSW Unisri Surakarta, Dr. Setyasih Harini, S.IP., M.Si., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan memetakan berbagai persoalan yang masih dihadapi perempuan di Solo Raya sekaligus mengidentifikasi peluang penguatan program pemberdayaan.

“Kami ingin menggali pengalaman, kebutuhan, serta praktik baik yang selama ini dijalankan oleh masing-masing instansi. Hasil pemetaan ini diharapkan dapat membuka peluang sinergi yang berkelanjutan antarlembaga,” kata Setyasih.

Diskusi yang berlangsung hingga siang hari menghadirkan empat perspektif utama. Suwarni, anggota Fraksi Golkar DPRD Kabupaten Karanganyar, menyoroti masih rendahnya keterwakilan perempuan dalam lembaga legislatif serta pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat dalam memperkuat posisi perempuan di ruang publik.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk serta Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Surakarta, Kristiana Hariyanti, memaparkan kondisi perempuan di Kota Surakarta, berbagai program pemberdayaan yang telah berjalan, serta peluang kerja sama dengan perguruan tinggi dalam mendukung peningkatan kualitas hidup perempuan.

Dari sisi advokasi, Hendriko dari SPEK-HAM Surakarta mengangkat berbagai kasus yang kerap ditemui dalam proses pendampingan hukum terhadap perempuan. Beragam tantangan dalam memberikan perlindungan dan pendampingan korban juga menjadi perhatian dalam diskusi tersebut.

Adapun Kristitik Yulieni dari Komunitas Srikandi Sungai Surakarta berbagi pengalaman mengenai penguatan peran perempuan melalui gerakan berbasis lingkungan. Menurutnya, pemberdayaan ekonomi dan sosial dapat dikembangkan melalui keterlibatan aktif perempuan dalam kegiatan komunitas yang berfokus pada pelestarian lingkungan.

Dari hasil diskusi, sejumlah isu strategis mengemuka, antara lain perlindungan perempuan dari kekerasan, peningkatan kapasitas dan partisipasi perempuan di ruang publik, pemberdayaan ekonomi, penguatan komunitas, serta pentingnya integrasi data dan kolaborasi antarlembaga.

Menutup kegiatan, Setyasih menegaskan bahwa seluruh rekomendasi yang dihasilkan dari FGD akan menjadi dasar penyusunan program kerja PSW Unisri ke depan.

“Hasil diskusi ini tidak akan berhenti sebagai catatan semata. Kami akan menjadikannya sebagai fondasi dalam pengembangan penelitian, edukasi publik, dan program pengabdian kepada masyarakat yang lebih relevan dengan kebutuhan perempuan di Solo Raya,” pungkasnya.(Abdul Alim)