KARANGANYAR, Jatengpress.com— Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati secara kritis oleh elemen masyarakat, pemuda, dan kaum pergerakan di Kabupaten Karanganyar. Bertempat di area parkir Masjid Besar Al-Mukarromah, digelar acara Nonton Bareng (Nobar) film dokumenter Pesta Babi yang dilanjutkan dengan diskusi publik guna merespons ancaman eksploitasi lingkungan di kawasan Gunung Lawu, Jumat malam (5/6)
Acara yang diinisiasi oleh Forum Relawan Penjaga Gunung Lawu (FRPGL) ini menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan pakar, di antaranya Sekretaris Lembaga Hikmah Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah, David Efendi, S.IP., M.A., serta Direktur Advokasi Pertambangan CELIOS, Wishnu Try Utomo.

Koordinator FRPGL, Aan Shopuanuddin, mengungkapkan bahwa pemutaran film dokumenter mengenai realitas di Papua ini sengaja dipilih karena memiliki benang merah yang sama dengan kegelisahan masyarakat Karanganyar saat ini. Gunung Lawu diketahui telah ditetapkan sebagai salah satu wilayah Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk pengembangan energi panas bumi atau geotermal.
“Kekhawatiran kita terkait proyek tenaga panas bumi di Gunung Lawu kan jelas. Bahwa ada banyak hal yang dieksplorasi dan dieksploitasi di sana. Di mana kami sebagai masyarakat Karanganyar juga tidak ingin terjadi hal-hal yang di luar keinginan kami,” kata Aan.
Aan menambahkan bahwa sebagai kaum terdidik dan intelektual, membangun kesadaran kritis adalah kewajiban mutlak. Menurutnya, pesan utama dari agenda ini adalah ajakan bersama untuk menyadari bahwa kehidupan ke depan masih sangat panjang, sehingga merawat bumi menjadi tanggung jawab bersama sebagai khalifah di muka bumi.
Dalam pemaparannya selaku pembicara utama, David Efendi mengapresiasi daya serap dan reservoir pengetahuan anak muda Karanganyar yang dinilai sangat peka terhadap isu ekologi berbasis data. Menurutnya, film yang diputar merupakan produk riset yang sulit dibantah, sehingga sangat layak menjadi basis pembelajaran bersama.
David menyoroti bahwa ancaman kolonialisasi dan luka ekologis tidak hanya terjadi di Papua, melainkan fenomena global yang juga dialami di Australia, Afrika, hingga Brazil dalam sejarah mempertahankan hutan. Oleh karena itu, gerakan pemuda di Lawu harus terus menyatukan energinya.
“Ketika terjadi eskalasi, setelah terjadi tahapan eksplorasi, biasanya muncul pembelahan sosial, konflik, kemudian mungkin juga ada perkubuan, itu akan dialami di banyak tempat. Sehingga cara belajar terbaik kita adalah memahami apa yang terjadi di daerah lain dan apa yang bisa dimitigasi. Jadi, poinnya adalah kita memitigasi eskalasi apa yang akan terjadi di sini ketika proyek itu dipaksakan dan partisipasi warga dibatasi,” papar David.
Lebih lanjut, David menegaskan bahwa ruang nobar dan diskusi seperti ini merupakan ruang politik yang paling asli. Ia menilai aktivitas berkumpulnya warga untuk mengobrol dan berbagi merupakan kekuatan demokrasi yang paling penting untuk diselamatkan.
Kekhawatiran senada juga disuarakan oleh peserta yang hadir, salah satunya Melani dari Pimpinan Ranting Nasyiatul Aisyiyah (PRNAisyiyah) Karanganyar. Melani mengekspresikan kecemasannya melihat perubahan fisik lereng Gunung Lawu yang dulunya hijau royo-royo dan penuh pohon untuk mencegah abrasi serta tanah longsor, namun sekarang justru mulai masif beralih fungsi menjadi deretan kafe dan objek wisata komersial.
Merespons kegelisahan tersebut, kader perempuan Muhammadiyah ini mendesak Pemerintah Kabupaten Karanganyar untuk segera mengambil langkah taktis dan kebijakan yang tegas. Pemkab diminta untuk membatasi perizinan pembukaan kafe atau destinasi wisata baru di kawasan lereng gunung demi menjaga keseimbangan ekosistem dan mencegah bencana ekologis di masa depan.
Setelah sesi penyampaian materi dan tanya jawab yang berlangsung hangat, acara nobar dan diskusi ini pun diakhiri dengan santai. Para peserta dan narasumber melanjutkan obrolan secara informal sembari wedangan, menikmati sajian minuman hangat khas lokal yang semakin menghidupkan ruang keakraban antarwarga. (Abdul Alim)






