Jatengpress.com, Kota Mungkid – Lima balon udara raksasa yang diterbangkan di Lapangan drh Soepardi Sawitan, Kota Mungkid, Minggu (29/03/2026) pagi, mampu menyedot perhatian ribuan pasang mata.
Kelima balon tersebut memiliki ukuran bervariasi antara 12 – 18 meter. Begitu juga temanya, ada balon warna hitam bergambar wanita berparas cantik, ada yang bergambar kartun Dora Emon, ada yang berlukisan lingkungan hidup, serta ada yang bercorak batik.
Bagi sebagian warga, pemandangan itu baru pertama kali mereka lihat dari dekat. “Ternyata di depan mata, dan ternyata lebih indah dari yang sata lihat di FB, IG atau media sosial lainnya,” ujar Sholihah (50), warga Salaman.
Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, mengatakan, festival balon udara kali ini tidak sekadar memberikan hiburan bagi masyarakat dalam peringatan Hari Jadi ke-42 Kota Mungkid.
Tetapi, menurut dia, untuk mengedukasi masyarakat, bagaimana melambungkan balon udara yang tak melanggar aturan undang-undang penerbangan.
“Kita semua dapat melihat bagaimana cara menerbangkan balon udara yang aman, dan tidak membahayakan,” kata Grengseng.
Menurut Kabag Prokompim Pemkab Magelang, Zanuar Efendi, balon-balon tersebut didatangkan dari komunitas pengrajin balon udara di Kalibeber, Wonosobo.
“Ternyata festival balon udara sangat menarik perhatian masyarakat. Di sini kita bisa melihat, ribuan warga begitu antusias menyaksikan hiburan langka ini,” ujarnya, di sela kegiatan.
Arul Robbyansah, pemuda Kalibeber, Wonosobo, mengaku sangat senang diberi kesempatan untuk kali pertama “menerbangkan” balon udara di wilayah Kabupaten Magelang.
Kesempatan dia manfaatkan untuk mengenali cuaca di Kota Mungkid sebagai ibukota/pusat pemerintahan Kabupaten Magelang.
“Sebenarnya kami hanya diminta untuk menyiapkan empat balon, tetapi kami sengaja menambah satu sebagai cadangan bila ada balon yang gagal terbang,” ujar Arul, mewakili rekan-rekannya.
Menjawab media, dia lalu menuturkan proses pembuatan balon udara yang terbuat dari bahan dasar kertas (jenis) dlancang.
Gambar yang terpampang pada setiap balon bukan lukisan cat. Itu dibuat dari kertas warna yang ditempel (dilem) dan dibentuk sesuai rancangan.
Proses pembuatan memerlukan waktu relatif beragam. Tergantung ukuran dan tingkat kesulitan (tema), serta jumlah personel tim penggarapnya.
Mengenai besar kecilnya ukuran balon berpengaruh kondisinya saat “terbang” di ketinggian 20 meter. Yang besar tentu lebih tahan terhadap tiupan angin namun yang kecil akan mudah bergoyang.
Agar balon dapat bertahan lebih lama di udara dipengaruhi beberapa aspek. Di samping faktor cuaca, suhu dan angin, juga asap sebagai bahan pengangkat balon.
“Dengan asap dari batok (tempurung kelapa) yang dibakar mampu bertahan lebih lama. Sedang untuk agar balon bisa cepat mengembang dipompa dengan gas dari tabung elpiji,” tutur Arul.
Arul menyebut contoh balon bergambar wanita cantik. “Balon selesai dikerjakan dalam waktu dua minggu pas ramadan kemarin,” ujar pemuda bertubuh ramping ini.
Masalah biaya, lanjut Arul, juga cukup variatif. Untuk membuat satu balon, kisarannya bisa mencapai belasan juta. (TB).






