Jatengpress.com, Magelang – Ribuan warga tumpleg bleg memadati segala sudut Alun-alun Kota Magelang, Minggu (13/04/2025). Mereka begitu antusias menyaksikan prosesi Grebeg Gethuk.
Sengatan terik matahari di tengah hari tak menyurutkan hasrat untuk melihat dari dekat agenda budaya tahunan memperingati Hari Jadi ke-1.120 Kota Magelang.
Dua gunungan gethuk melambangkan laki-laki dan perempuan yang bermakna kesuburan. Serta gunungan palawija berhiaskan aneka sayur mayur yang diusung oleh perwakilan 17 kelurahan.
Gunungan gethuk bersama gunungan palawija kemudian diarak dari Pendapa Alun-alun di sisi Utara menuju tengah alun-alun.
Dan, dalam sekejab, seluruh gunungan tersebut ludes diperebutkan warga yang sejak pagi telah begitu setia untuk menantikan acara itu.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, event Grebeg Gethuk kali ini juga menyajikan dramatisasi histori berdirinya Kota Magelang. Prosesi dimulai dari lokasi Penetapan Prasasti Mantuasih, serta Bulu Bekti Gunungan Palawija.
Dilanjutkan penampilan epic Sendratari “Babad mahardika”. Tari kolosal karya seniman Gepeng Nugroho yang diikuti sekitar 260 penari pelajar dan 50 orang pendukung dari koreografer hingga pengrawit.
Para pejabat Pemkot Magelang, jajaran Forkompimda dan tamu undangan mengenakan pakaian adat Jawa. Wali Kota Magelang Damar Prasetyono pun memimpin upacara juga menggunakan bahasa Jawa.
Damar merasa bangga, Grebeg Gethuk kali ini berlangsung ramai, lancar, dan menampilkan aneka seni dan budaya.
“Ini luar biasa, untuk meramaikan grebeg gethuk kali ini,” katanya.
Dia pun menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada para seniman, budayawan dan masyarakat.
Yang lebih istimewa, dalam perayaan hari jadi tahun ini Pemerintah Kota (Pemkot) Magelang memiliki pendapa baru yang terletak di sisi Utara alun-alun.
Pendapa dimaksud merupakan hibah dari Kementerian Keuangan dan sudah dapat dimanfaatkan sepenuhnya oleh Pemkot Magelang.
Dulu, prosesi kirab dari Mantyasih menuju alun-alun, singgah lebih dahulu di depan Kantor PDAM. Kemudian naik delman.
“Tahun ini, dari Mantyasih diterima di Pendapa Alun-alun, lalu berjalan kaki menuju (tengah) alun-alun karena lebih dekat,” ujar Damar.
Dia berharap, penyelenggaraan Grebeg Gethuk tahun depan bisa lebih baik lagi. Lebih inovatif dengan ide-ide baru, tapi tidak meninggalkan pakem yang sudah ada.
“Yakni, menyangkut sejarah Mantyasih, sejarah Gelang-gelang dan sejarah Magelang, sebagai pakem utama,” kata Damar Prasetyono. (TB)






