Jatengpress.com, Purworejo – Di tengah derasnya arus informasi digital, seorang jurnalis tidak cukup hanya mengetahui bahwa sebuah peristiwa telah terjadi. Tantangan yang lebih besar adalah menemukan alasan mengapa peristiwa itu penting untuk diberitakan dan mengapa publik perlu membacanya.
Pesan itulah yang mengemuka dalam kelas daring Journalism Fellowship on CSR (JFC) Batch III 2026 pada Selasa (2/6/2026) yang menghadirkan praktisi media senior dan Ahli Pers Dewan Pers, Nurcholis MA Basyari, sebagai pemateri.
Dalam paparannya, Nurcholis mengajak peserta memahami kembali hakikat berita. Menurutnya, berita lahir dari fakta dan realitas yang terjadi di tengah masyarakat, baik berupa peristiwa, problema maupun wacana yang berkembang.
Namun, sebuah fakta tidak otomatis menjadi berita yang menarik. Di sinilah pentingnya memahami konsep “cantolan berita” atau news peg.
“Cantolan berita adalah sesuatu yang biasanya berupa peristiwa atau kejadian yang menjadi dasar atau alasan untuk membuat laporan guna menyoroti topik tertentu,” jelas Nurcholis dalam materi yang disampaikannya kepada peserta.
Ia mencontohkan, cantolan berita dapat berupa kebijakan baru, kegiatan pelatihan, seminar, lokakarya, rapat koordinasi, hingga pemaparan kinerja. Momentum-momentum tersebut menjadi pintu masuk bagi wartawan untuk mengangkat isu yang lebih luas dan memiliki dampak bagi masyarakat.
Bagi para peserta fellowship yang banyak menulis isu tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), pemahaman tentang cantolan berita menjadi bekal penting. Sebab, kegiatan CSR tidak hanya berhenti pada seremoni penyerahan bantuan, tetapi dapat dikembangkan menjadi cerita yang menyentuh manfaat dan dampaknya bagi masyarakat.
Nurcholis juga menekankan bahwa nilai berita pada dasarnya bertumpu pada dua aspek utama, yakni penting dan menarik. Berita yang baik harus menyangkut kepentingan publik sekaligus mampu memuaskan rasa ingin tahu pembaca.
“Berita yang bernilai adalah berita yang penting dan atau menarik bagi publik,” ungkapnya saat menjelaskan konsep dasar nilai berita.
Lebih lanjut, ia memaparkan sejumlah faktor yang menentukan nilai sebuah berita. Di antaranya dampak yang ditimbulkan, ketokohan narasumber, konflik, kedekatan dengan audiens, aktualitas, tren kekinian, keunikan peristiwa, hingga sisi kemanusiaan yang mampu menggugah emosi pembaca.
Bagi jurnalis, memahami faktor-faktor tersebut bukan sekadar teori ruang kelas. Nilai berita menjadi kompas dalam menentukan sudut pandang penulisan dan membantu memilih cerita yang paling relevan bagi khalayak.
Kelas yang berlangsung secara daring itu juga memperkenalkan berbagai ragam berita, mulai dari straight news, interpretative news, comprehensive news, feature, investigasi hingga indepth news. Masing-masing memiliki tujuan dan pendekatan yang berbeda dalam menyampaikan informasi kepada publik.
Melalui sesi tersebut, peserta tidak hanya diajak memahami teknik dasar jurnalistik, tetapi juga belajar melihat sebuah peristiwa dari berbagai sudut pandang. Sebuah kegiatan sederhana dapat menjadi berita yang kuat ketika wartawan mampu menemukan cantolan, mengukur nilai beritanya, lalu menyajikannya dengan perspektif yang relevan bagi masyarakat.
Di era informasi yang serba cepat, pelajaran itu menjadi pengingat bahwa jurnalisme bukan sekadar mencatat apa yang terjadi, melainkan membantu publik memahami mengapa sebuah peristiwa layak mendapat perhatian. (RH)





