Kupas Jantung Kerja Jurnalis dalam Formula 6M

Jatengpress.com, Purworejo – Di balik sebuah berita yang terbit di media massa, terdapat proses panjang yang sering kali tidak terlihat oleh pembaca. Sebuah laporan yang tampak sederhana sejatinya lahir dari rangkaian perencanaan, pengumpulan data, verifikasi, hingga penyuntingan yang dilakukan secara disiplin.


Proses itulah yang dibedah oleh Ahli Pers Dewan Pers, Nurcholis MA Basyari, dalam kelas Journalism Fellowship on CSR (JFC) Batch III 2026, Selasa (2/6/2026). Melalui materi bertajuk News Planning, Getting, and Processing, ia mengajak para peserta memahami bahwa jurnalistik bukan sekadar menulis, melainkan pekerjaan yang menuntut ketelitian, etika, dan tanggung jawab publik.


Di awal pemaparannya, Nurcholis mengingatkan peserta agar tetap menjaga identitas profesi wartawan di tengah berkembangnya media digital dan konten media sosial.


“Wartawan harus menjadi dirinya sendiri. Wartawan bukan YouTuber, bukan TikToker, dan bukan pula buzzer. Tugas utama wartawan adalah menjalankan fungsi jurnalistik secara profesional,” tegasnya.


Menurutnya, pers memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar menyampaikan informasi. Berdasarkan Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999, pers berfungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol sosial, sekaligus lembaga ekonomi. Sementara dalam pandangan tokoh pers Mochtar Lubis, pers juga berperan sebagai pemersatu, pendidik, pengawas kekuasaan, penghapus mitos, dan forum publik.


Karena itu, lanjut Nurcholis, wartawan harus memahami setiap tahapan kerja jurnalistik. Ia memperkenalkan konsep 6M yang menjadi fondasi kegiatan jurnalistik, yakni mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan mempublikasikan informasi menjadi berita.


Bagi Nurcholis, kualitas sebuah berita ditentukan sejak tahap perencanaan liputan. Seorang wartawan harus mampu menemukan ide, memahami persoalan, menyusun rencana peliputan, menemui narasumber secara langsung, menggali keterangan dari berbagai sumber, hingga melakukan pengujian data sebelum menulis berita.


“Liputan yang baik selalu dimulai dari perencanaan yang matang. Jangan langsung menulis sebelum memahami persoalan dan menguji data yang diperoleh,” ujarnya.


Ia juga menekankan pentingnya wawancara sebagai salah satu instrumen utama dalam pengumpulan informasi. Menurutnya, wawancara bukan proses interogasi, melainkan upaya menggali informasi melalui percakapan yang terarah.


“Kenali narasumber, pahami persoalan, siapkan pertanyaan, dan lakukan elaborasi. Wartawan harus menjadi pengemudi yang baik dalam wawancara, bukan sekadar penanya,” kata Nurcholis.


Dalam praktiknya, wartawan juga dituntut menjaga empati tanpa kehilangan objektivitas. Kedekatan dengan narasumber tidak boleh mengurangi independensi seorang jurnalis.


Peserta juga diajak memahami standar berita yang layak dipublikasikan. Sebuah berita, kata Nurcholis, harus memenuhi unsur 5W+1H secara lengkap, akurat, berimbang, menggunakan sumber yang kredibel, objektif, serta tidak melanggar Undang-Undang Pers maupun Kode Etik Jurnalistik.


“Jangan hanya cepat, tetapi juga harus benar. Akurasi tetap menjadi ruh utama dalam setiap karya jurnalistik,” tegasnya.


Saat memasuki sesi penulisan berita, Nurcholis memberikan sejumlah kiat praktis kepada peserta. Ia mendorong wartawan menggunakan pendekatan storytelling yang relevan dengan kepentingan publik serta menghindari gaya bahasa hiperbolik.


“Bertuturlah kepada pembaca. Sampaikan informasi yang penting dan menarik. Hindari sensasi yang tidak perlu,” ujarnya.


Ia bahkan menyarankan wartawan lebih sering menggunakan pendekatan why lead atau teras berita yang menjelaskan alasan penting suatu peristiwa, dibanding hanya menyampaikan apa yang terjadi. Pendekatan itu dinilai lebih mampu membantu pembaca memahami konteks sebuah kejadian.


Dalam proses peliputan, prinsip 5W+1H tetap menjadi panduan utama. Wartawan harus mampu menjawab apa yang terjadi, siapa yang terlibat, kapan dan di mana peristiwa berlangsung, mengapa terjadi, serta bagaimana prosesnya berlangsung.


Tak kalah penting, Nurcholis mengingatkan bahwa jurnalisme pada akhirnya adalah soal kebenaran. Ia mengutip prinsip-prinsip yang dikemukakan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, bahwa kewajiban pertama jurnalisme adalah kepada kebenaran, sementara loyalitas utamanya adalah kepada warga.


Pesan itu terasa relevan di tengah era banjir informasi saat ini. Ketika siapa pun bisa membuat konten dan menyebarkan informasi dalam hitungan detik, wartawan tetap dituntut memegang disiplin verifikasi, menjaga independensi, serta menghadirkan informasi yang akurat dan dapat dipercaya.


Bagi peserta JFC Batch III, kelas tersebut bukan sekadar pelajaran teknis tentang cara membuat berita. Lebih dari itu, materi yang disampaikan menjadi pengingat bahwa profesi wartawan adalah pekerjaan yang membawa tanggung jawab besar kepada publik.


Karena pada akhirnya, seperti yang tersirat dari keseluruhan materi kelas, berita bukan hanya soal siapa yang paling cepat menyampaikan informasi, tetapi siapa yang paling mampu menghadirkan kebenaran yang telah diuji dan diverifikasi. (RH)