Jatengpress.com, Purworejo – Menjadi wartawan tidak lagi sekadar soal menulis berita ketika setiap orang dapat merekam peristiwa hanya dengan telepon genggam di tangan. Kemampuan menangkap momen, menyusun visual, merekam suara, hingga merangkainya menjadi sebuah cerita kini menjadi keterampilan yang tak terpisahkan dari profesi jurnalistik.
Perubahan itulah yang menjadi fokus pembahasan Abdul Malik MSN saat memberikan materi Mobile Journalism (MoJo) dalam Journalism Fellowship on CSR (JFC) Batch III 2026 secara daring pada Kamis (11/6/2026).
Digital Content & Visual Media Trainer yang juga berpengalaman di berbagai institusi media tersebut mengajak para peserta memahami bahwa perkembangan teknologi telah mengubah cara jurnalis bekerja sekaligus cara publik mengonsumsi informasi.
Abdul Malik memulai pemaparannya dengan sebuah refleksi sederhana tentang kekuatan visual dalam jurnalisme.
“Seorang wartawan mampu menjelaskan sebuah peristiwa dalam seribu kata. Lalu bagaimana jika peristiwa itu diceritakan melalui sepuluh gambar yang kuat?” ujarnya mengawali materi tentang Mobile Journalism.
Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa jurnalisme modern tidak lagi bergantung pada satu format penyampaian informasi. Teks, foto, audio, dan video kini saling melengkapi untuk menghadirkan cerita yang lebih utuh kepada audiens.
Namun menurut Abdul Malik, banyak orang masih keliru memahami konsep Mobile Journalism. Tidak sedikit yang menganggap MoJo hanya berkaitan dengan penggunaan smartphone dalam peliputan. Padahal, inti Mobile Journalism justru terletak pada kemampuan jurnalistik itu sendiri.
“MoJo bukan soal smartphone. Yang paling penting adalah kemampuan menemukan fakta, menemukan momen, menemukan gambar, lalu merangkainya menjadi sebuah cerita,” jelas Abdul Malik.
Baginya, teknologi hanyalah alat. Sementara kualitas cerita tetap ditentukan oleh kepekaan seorang jurnalis dalam membaca peristiwa dan menyajikannya secara menarik kepada publik.
Dalam praktiknya, seorang jurnalis MoJo dituntut mampu bekerja lebih fleksibel dan cepat. Ia harus memahami karakter berbagai platform digital yang kini menjadi ruang utama distribusi informasi.
Abdul Malik menambahkan bahwa setiap platform memiliki format yang berbeda. Televisi, YouTube, dan website media umumnya menggunakan format landscape, sementara Instagram Reels, TikTok, dan YouTube Shorts lebih mengutamakan format portrait. Karena itu, jurnalis harus memahami sejak awal di mana karya mereka akan dipublikasikan.
“Pertanyaan pertama yang harus dijawab sebelum mengambil gambar adalah: berita ini akan ditonton di mana?” imbuhnya.
Selain visual, Abdul Malik memberikan perhatian khusus pada kualitas audio yang kerap diabaikan oleh pembuat konten pemula. Menurutnya, suara memiliki peran yang sangat besar dalam sebuah video jurnalistik.
“Audio adalah 50 persen dari video. Penonton masih bisa memaafkan gambar yang biasa saja, tetapi jarang ada yang memaafkan audio yang buruk,” ujarnya.
Karena itu, suara narasumber dan suara alami di lokasi kejadian atau natural sound harus direkam dengan baik agar mampu memperkuat suasana dan memberikan pengalaman yang lebih nyata kepada audiens.
Dalam sesi pelatihan tersebut, ia juga membagikan sejumlah teknik dasar pengambilan gambar yang penting dikuasai oleh jurnalis MoJo. Ia menjelaskan pentingnya variasi gambar melalui kombinasi wide shot, medium shot, dan close-up untuk membangun alur visual yang lebih hidup. Selain itu, peserta juga dikenalkan dengan prinsip komposisi gambar seperti rule of thirds dan pengaturan headroom agar hasil visual lebih nyaman dilihat.
Namun menghasilkan video yang baik tidak berhenti pada proses pengambilan gambar. Ia menekankan bahwa proses editing merupakan tahap yang sangat menentukan kualitas akhir sebuah karya jurnalistik audio visual.
“Video yang bagus adalah video yang dibuat dan jadi. Artinya, proses editing tidak boleh dianggap sekadar pelengkap,” katanya.
Dijelaskan, bahwa dalam tahap pascaproduksi, jurnalis perlu menyusun footage sesuai alur cerita, menambahkan voice over, backsound, teks pendukung, koreksi warna, hingga menentukan format ekspor yang sesuai dengan kebutuhan platform publikasi.
Berbagai aplikasi seperti CapCut, Kinemaster, Canva, Adobe Premiere, DaVinci Resolve hingga Power Director kini dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses produksi video jurnalistik secara mandiri.
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, Abdul Malik melihat Mobile Journalism sebagai peluang besar bagi jurnalis untuk menghasilkan karya yang lebih cepat, dekat dengan peristiwa, dan mudah diakses masyarakat.
Namun pada akhirnya, ia kembali mengingatkan bahwa teknologi hanyalah sarana. Yang membedakan seorang jurnalis dengan pembuat konten biasa adalah kemampuannya menemukan fakta, memahami konteks, dan mengubah rangkaian gambar menjadi sebuah cerita yang bermakna.
Sebab dalam dunia jurnalistik, kamera terbaik bukanlah yang paling mahal, melainkan yang mampu merekam fakta dan menghadirkannya menjadi cerita yang dipercaya publik. (RH)






