07 Mei 2026 23:57 GMT
Investasi Triwulan Pertama 2026 di Jateng Tembus Rp 23,02 Triliun, Serap 92 Ribu Naker : Dua Kawasan Industri di Batang Dongkrak Minat PMA
Jatengpress.com, Semarang – Gejolak geopolitik akibat konflik di Timur Tengah, tidak mengganggu iklim investasi asing di Jawa Tengah.Pada triwulan pertama (Januari sampai Maret) tahun 2026 ini, nilai investasi di Jawa Tengah justru melejit mencapai angka Rp 23,02 Triliun. Jumlah nilai investasi tersebut didominasi oleh investasi perusahaan modal asing yang mencapai Rp 12,98 Triliun atau 56,4 persen. Sedangkan 43,6 persen atau Rp 10,04 Triliun merupakan investasi perusahan modal dalam negeri. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perijinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, Sakina Rosellasari mengatakan, nilai investasi sebesar Rp 23,02 Triliun tersebut menunjukkan kenaikan 5,35 persen jika dibandingkan periode yang sama, triwulan pertama tahun 2025. “Ini membanggakan bagi kita, dimana di tengah gejolak geopolitik, Jawa Tengah masih menjadi mayoritas investasi dengan perusahaan modal asing mencapai Rp 12,98 Triliun atau 56,4 persen, dan perusahaan modal dalam negeri Rp 10,04 Triliun atau 43,6 persen,” ungkap Sakina kepada wartawan, di kantornya, Selasa (5/5/2026). Sakina Rosellasari, Kepala DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah. Foto : Sucipto Jenis produksi dari perusahaan asing yang masuk pada tahun ini, jika dibandingkan tahun lalu mengalami pergeseran. Pada tahun 2025 investasi didominasi oleh industri alas kaki, sedangkan pada triwulan pertama tahun ini lebih didominasi oleh industri mesin, elektronik, instrumen kedokteran dan listrik. Industri alas kaki bergeser menduduki peringkat kedua untuk investasi asing. “Terjadi pergeseran dari padat karya menjadi padat modal. Alas kaki peringkat kedua untuk investasi asing. Sedangkan untuk perusahaan dalam negeri, didominasi oleh karet dan plastik,” imbuh Sakina. Adapun negara Singapura menjadi negara yang paling banyak menanamkan modal mencapai Rp 3,33 triliun, disusul Hongkong dengan Rp 3,22 triliun, China Rp 2,14 triliun, Jepang Rp1,85 triliun, dan Korea Selatan dengan nilai investasi Rp 0,52 triliun. Keberadaan dua kawasan industri di Kabupaten Batang, Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) dan Batang Industrial Park (BIP) menjadi magnet seksi bagi investor asing maupun domestik untuk masuk, yang menggeser Kawasan Ekonomi Kendal (KEK). “Realisasi investasi triwulan pertama ini kalau berdasarkan lokasi kawasan industri, ada pergeseran. Pertama tertinggi di Batang. Ada dua, Batang Industrial Park dan Kawasan Industri Terpadu Batang itu magnet investasi, menggeser Kendal (KEK). Di Kendal ada pengembangan olahan, tapi masih pematangan lahan. Batang yang kemudian melesat,” ujar Sakina. Dikatakan, melejitnya minat investor asing untuk berkegiatan industri di Jawa Tengah, didorong oleh jnsentif atau kemudahan melakukan investasi, di antaranya insentif pajak dan pengurangan pajak. Stimulan di sektor pajak tersebut pada akhirnya menjadi magnet masuknya industri ke Jawa Tengah, yang berdampak positif kepada tingginya multiplayer effect, di antaranya penyerapan tenaga kerja yang tinggi yang mencapai 92.000 tenaga kerja, dengan jumlah proyek 24.957 unit. Sakina mengatakan, usaha padat modal seperti industri mesin, elektronik, instrumen kedokteran, dan kelistrikan, mulai menggeser dominasi usaha padat karya, seperti alas kaki dan tekstil. Namun demikian, dia menegaskan, Jawa Tengah masih menjadi tempat yang kondusif bagi penanaman modal yang membutuhkan banyak tenaga kerja.“Kami melakukan pendampingan pada setiap investasi yang masuk ke Jateng, baik padat modal maupun padat karya,” kata dia. (CIP)