Jatengpress.com,Purworejo-Di tengah lautan jutaan jemaah haji yang memadati kawasan Jamarat, Mina, Arab Saudi, satu sosok asal Kabupaten Purworejo mencuri perhatian. Saat sebagian besar jemaah mengenakan pakaian yang hampir seragam, seorang jemaah haji tampak berbeda dengan balutan seragam Pramuka lengkap berwarna cokelat dan slayer yang melingkar di lehernya.
Sosok tersebut adalah Drs. Iswahyudi (58), guru MTsN 2 Purworejo yang tergabung dalam Kloter 26 Embarkasi Yogyakarta International Airport (YIA). Penampilannya saat menjalani rangkaian ibadah haji di Mina langsung menarik perhatian para jemaah dari berbagai daerah bahkan petugas keamanan Arab Saudi.
Momen itu terjadi pada hari ketiga pelaksanaan lempar jumrah, ketika jemaah diperbolehkan mengenakan pakaian bebas yang sopan setelah menyelesaikan tahapan tertentu dalam ibadah haji. Setelah menuntaskan lempar Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah pada Jumat (29/05/2026), Iswahyudi mengabadikan momen tersebut dengan berfoto di sekitar Jamarat mengenakan seragam Pramuka.
Tak disangka, foto itu kemudian beredar luas di media sosial dan mendapat respons positif dari berbagai kalangan, terutama para pegiat Pramuka di Indonesia.
“Awalnya memang agak malu. Bahkan sempat ditegur istri supaya tidak memakai seragam Pramuka. Tetapi saya tetap mantap mengenakannya,” ujar Iswahyudi saat dihubungi, Sabtu (30/05/2026).
Bagi Iswahyudi, mengenakan seragam Pramuka di Tanah Suci bukanlah upaya mencari perhatian. Di balik seragam yang dikenakannya tersimpan perjalanan panjang pengabdian di dunia kepramukaan selama lebih dari tiga dekade.
Pria yang tinggal di Kelurahan Cangkrepkidul, Kecamatan Purworejo itu mulai aktif menjadi pembina Pramuka sejak tahun 1994 saat bertugas di SMP Bharata Bener. Dedikasinya terus berlanjut dengan mengikuti Kursus Mahir Dasar (KMD) pada 2004 dan Kursus Mahir Lanjutan (KML) pada 2006.
Atas pengabdian tersebut, Iswahyudi menerima penghargaan Satyalancana Pancawarsa IV dari Kwartir Nasional pada tahun 2020 sebagai bentuk penghormatan atas dedikasinya lebih dari 20 tahun di bidang kepramukaan.
Hingga kini, ia masih aktif sebagai pengurus Kwartir Cabang Purworejo bidang Pramuka Peduli (Pramuli), Wakil Ketua Kwartir Ranting Bener, serta Ketua Gugus Depan dan Pembina Pramuka di MTsN 2 Purworejo.
Menurut Iswahyudi, mengenakan seragam Pramuka saat berhaji merupakan cara sederhana untuk menunjukkan bahwa nilai-nilai kepramukaan dapat diterapkan di mana saja, termasuk ketika menjalankan ibadah di Tanah Suci.
“Saya ingin menunjukkan bahwa semangat Pramuka bisa hadir di mana saja, bahkan saat menjalankan ibadah haji,” tuturnya.
Keputusan itu ternyata menghadirkan pengalaman yang tidak terlupakan. Sepanjang perjalanan menuju Jamarat, banyak jemaah yang menyapanya dengan salam Pramuka. Beberapa di antaranya bahkan meminta berfoto bersama.
Ia juga berkesempatan bertemu sesama pegiat Pramuka dari berbagai daerah, mulai dari Lampung hingga Trenggalek, Jawa Timur. Menariknya, petugas keamanan Arab Saudi atau askar yang melihat penampilannya juga turut mengajak berfoto bersama.
Bagi Iswahyudi, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa nilai-nilai persaudaraan, kepedulian, dan semangat pengabdian yang diajarkan dalam Pramuka mampu menjadi bahasa universal yang menyatukan banyak orang.
Sebagai Ketua Regu selama pelaksanaan ibadah haji, ia berupaya menerapkan nilai Dasa Darma Pramuka dengan membantu anggota rombongan yang membutuhkan bantuan, mengarahkan perjalanan, hingga memastikan seluruh anggota tetap bersama selama menjalankan ibadah.
Perjalanan menuju Tanah Suci sendiri tidaklah singkat. Bersama sang istri, Ani Sa’adah, Iswahyudi menunggu antrean haji selama 13 tahun sejak mendaftar pada 2013.
Kini, setelah akhirnya menjejakkan kaki di Makkah dan Mina, Iswahyudi tidak hanya membawa doa-doa terbaik, tetapi juga membawa identitas yang telah menjadi bagian penting dalam hidupnya selama puluhan tahun.
Di tengah jutaan jemaah dari berbagai negara, seragam Pramuka yang dikenakannya mungkin terlihat sederhana. Namun di balik warna cokelat itu tersimpan kisah tentang pengabdian, pendidikan karakter, dan semangat menolong sesama yang terus dibawanya hingga ke Tanah Suci.
Bagi Iswahyudi, menjadi Pramuka bukan sekadar mengenakan seragam, melainkan menjalankan nilai-nilai kehidupan yang tetap hidup di mana pun berada, termasuk saat menyempurnakan rukun Islam kelima di hadapan Jamarat. (AYG)
Ket.fofo: Drs. Iswahyudi, jemaah haji asal Kabupaten Purworejo yang juga guru MTsN 2 Purworejo, berfoto mengenakan seragam Pramuka di kawasan Jamarat, Mina, Arab Saudi, usai melaksanakan lempar jumrah.






