Jatengpress.com, Borobudur – Ribuan masyarakat dan wisatawan memadati tepi jalan kawasan Borobudur, untuk menyaksikan kemeriahan Kirab Adat Budaya Nusantara, Jumat (29/05/2026),
Kirab budaya ini merupakan rangkaian utama Borobudur Peace & Prosperity Festival (BPF) 2026. Para peserta jalan kaki melintasi Jalan Medang Kamulan, Jalan Pramudyawardani, masuk Jalan Balaputradewa, menuju kawasan TIC dan Candi Pawon, Wanurejo, Borobudur.
Beragam kontingen budaya, raja-raja Nusantara, Putri Indonesia Pendidikan Tahun 2025, tokoh adat, hingga seniman hadir dari berbagai daerah untuk menyaksikan kirab adat budaya yang sarat pesan persatuan, harmoni, dan perdamaian.
Sederet pasukan bergodo, pakaian adat, kesenian tradisional, hingga simbol budaya Nusantara ditampilkan di sepanjang rute perjalanan kirab.
Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, mengatakan, keberagaman budaya merupakan kekuatan besar bangsa Indonesia dalam membangun perdamaian dan kesejahteraan bersama.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Magelang, kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya Borobudur Peace & Prosperity Festival 2026. Kehadiran para tokoh budaya, seniman, dan masyarakat adat dari berbagai daerah menjadi simbol kuat persatuan bangsa,” katanya, diwakili Plh Sekda David Rudiyanto.
Dia menyebut Borobudur bukan hanya warisan budaya dunia, tapi juga simbol peradaban yang mengajarkan harmoni, spiritualitas, dan gotong royong. Melalui kirab budaya, masyarakat diajak untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur leluhur di tengah keberagaman Indonesia.
Perkuat Toleransi.
Ketua Panitia Borobudur Peace & Prosperity Festival 2026, Jeffrey Yunus, mengatakan, festival tahun ini dengan tema “One Light, One World” yang mencerminkan semangat persatuan umat manusia.
“Tema ini merefleksikan bahwa seluruh manusia berbagi satu cahaya dan satu kehidupan yang sama. Dari kesadaran itu lahir kasih sayang, harmoni, dan harapan membangun dunia yang lebih damai,” kata Jeffrey.
Dia menyebut BPF 2026 dibangun di atas 4 pilar utama. Unity (persatuan), harmony (harmoni), peace (perdamaian), dan prosperity (kemakmuran). Ke-4 nilai itu diharapkan mampu memperkuat toleransi lintas budaya sekaligus memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat.
“Budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi kekuatan untuk membentuk masa depan. Karena itu generasi muda harus ikut menjaga kelestarian budaya Nusantara,” ujarnya.
Jeffrey menyampaikan penghargaan untuk berbagai pihak yang mendukung terselenggaranya festival, termasuk Pemerintah Kabupaten Magelang, P3I, MATRA, Yayasan Puteri Indonesia, serta komunitas budaya dari berbagai daerah dan negara.
Sementara itu, Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkualam II dari Masyarakat Adat Nusantara (MATRA) menyebut adanya BPF menjadi bukti nyata kolaborasi budaya yang terus terjaga selama 5 tahun terakhir.
“Ini kebanggaan bagi kami. BPF menjadi ruang persatuan budaya, spiritualitas, dan perdamaian yang mempertemukan berbagai elemen bangsa dalam satu harmoni,” tuturnya.
Kemeriahan kirab semakin terasa dengan antusiasme masyarakat yang memadati jalur kirab untuk menyaksikan langsung parade budaya Nusantara. Festival ini juga menjadi bagian dari rangkaian menyambut Hari Raya Waisak 2570 BE di Borobudur. (TB)






