Jatengpress.com, Tangerang – Suara penjelasan instruktur terdengar bersahut-sahutan di dalam laboratorium fasilitas industri telekomunikasi milik Tower Bersama Infrastructure di Karawaci, Tangerang, Jumat (22/5/2026). Di hadapan perangkat jaringan dan simulasi teknologi telekomunikasi, puluhan siswa SMK tampak serius memperhatikan setiap materi yang diberikan.
Sesekali mereka mencatat, mengambil foto perangkat, hingga bertanya mengenai sistem kerja jaringan telekomunikasi di lapangan. Bagi sebagian siswa, kunjungan industri itu menjadi pengalaman pertama melihat langsung dunia kerja sektor telekomunikasi yang selama ini hanya dipelajari melalui teori di ruang kelas.
Rombongan tersebut berasal dari SMK HS Agung Bekasi, Jawa Barat. Melalui kunjungan industri ke TBIG, para guru dan siswa ingin memperoleh gambaran nyata mengenai industri telekomunikasi, termasuk tantangan dan peluang kerja di dalamnya.
Di sisi lain, TBIG memanfaatkan kunjungan itu sebagai sarana pembekalan bagi siswa sekolah vokasi agar lebih siap menghadapi dunia kerja yang terus berkembang, khususnya di sektor telekomunikasi dan jaringan.
Ketua Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) SMK HS Agung sekaligus ketua pelaksana kunjungan, Iskandar Zain Agung, mengatakan selama ini sekolah vokasi kerap kesulitan mencari perusahaan yang benar-benar sejalan dengan kompetensi jurusan siswa.
“Ini kunjungan industri untuk memperkenalkan anak-anak ke dunia industri. Kita ke sini karena yang linear itu hanya TBIG karena TKJ itu tentang jaringan. Biasanya kita kunjungan industri itu ke PT manufaktur yang tidak sejalan dengan jurusannya, makanya kita pilih TBIG ini dan ini baru pertama kali ke sini,” kata Agung di sela kunjungan.
Menurut Agung, hubungan sekolah dengan TBIG bermula dari jejaring Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Kabupaten Bekasi. Dari forum guru TKJ tersebut, sekolah mulai mengenal program pelatihan dan kurikulum industri yang dimiliki TBIG.
“Awalnya kita dijembatani oleh MGMP Kabupaten Bekasi. MGMP itu perkumpulan guru-guru TKJ. Sebelumnya kita susah mencari PT yang linear dengan jurusan TKJ. Harapan ke depannya anak-anak bisa direkrut ke TBIG ini,” imbuhnya.
Ia menjelaskan, siswa yang mengikuti kunjungan merupakan siswa kelas 12 yang baru lulus dan sedang bersiap memasuki dunia kerja. Karena itu, pengenalan terhadap perangkat industri dianggap penting agar siswa memahami kondisi nyata di lapangan.
“Yang kunjungan ini untuk kelas 12 karena sudah lulus yang mau terjun ke dunia industri juga supaya kenal perangkat-perangkat apa yang ada di PT ini,” jelasnya.
Tak hanya kunjungan industri, sebelumnya para siswa juga telah mengikuti pelatihan yang digelar TBIG pada Maret lalu. Pelatihan tersebut menjadi salah satu jalur awal seleksi tenaga kerja industri.
“Biasanya yang ikut pelatihan itu yang akan direkrut. Di pelatihan itu kan dapat sertifikat dan ada nilainya, mungkin yang nilai tertinggi yang diseleksi untuk bisa direkrut. Minimal kita sudah ada link perusahaan yang linear,” lanjutnya.
Bagi para siswa, kunjungan itu membuka wawasan baru mengenai perkembangan teknologi telekomunikasi yang selama ini belum mereka kenal secara mendalam.
Salah satu siswi SMK HS Agung, Nisa Putri (18), mengaku terkejut mengetahui beragam jenis tower telekomunikasi yang digunakan industri, termasuk tower kamuflase yang dirancang menyerupai lingkungan sekitar.
“Ke sini dalam rangka kunjungan industri. Baru pertama ke sini, jadi tahu jenis tower itu apa aja termasuk tower kamuflase. Ini nambah hal baru dan kayaknya kita perlu nambah belajar lagi misal tentang koding dan masih banyak hal yang masih dicari,” ucapnya.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana kebutuhan industri telekomunikasi saat ini tidak hanya menuntut kemampuan teknis dasar, tetapi juga penguasaan teknologi digital yang terus berkembang.
Di tengah percepatan transformasi digital, kebutuhan tenaga kerja yang siap pakai menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan vokasi. Banyak lulusan SMK dinilai masih menghadapi kesenjangan antara kemampuan yang dipelajari di sekolah dengan kebutuhan nyata industri.
Melalui program pelatihan dan kurikulum unggulan, TBIG mencoba menjembatani kebutuhan tersebut. Para siswa tidak hanya mendapatkan materi teori, tetapi juga pelatihan soft skill, hard skill, hingga kesempatan magang.
CSR Analis TBIG, Revfath Rizqon Safaat, mengatakan program kunjungan sekolah dan pelatihan vokasi mulai digencarkan sejak tahun lalu.
“Kunjungan sekolah-sekolah mulai tahun kemarin, ada 14 sekolah dan tahun ini baru 5 dan ini yang ke-5. Yang dari luar Jawa itu kunjungan dari Lampung sama Palembang, selebihnya masih dari Jabodetabek, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur,” sebutnya.
Menurut Revfath, materi pelatihan disusun berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan agar siswa lebih siap saat memasuki industri telekomunikasi.
“Kita juga ada pelatihan. Nah pelatihan-pelatihan ini kita susun berdasarkan materi-materi yang cocok untuk SMK ketika terjun di dunia lapangan itu apa aja. Kita bagi dua, soft skill dan hard skill,” tambahnya.
Program tersebut juga menjadi bagian dari proses pencarian talenta muda di sektor telekomunikasi. Dari ribuan peserta pelatihan, hanya sebagian kecil yang dinilai memenuhi standar industri untuk melanjutkan ke tahap magang hingga peluang direkrut perusahaan.
“Tahun kemarin ada sekitar 1.500-an yang ikut, itu yang lulus sekitar 145 yang memenuhi standar kita dan hanya 84 yang lanjut ke magang. Kemudian untuk serapan perusahaan cukup gede, karena kita butuh untuk proyek di beberapa daerah,” jelas Revfath.
Sebagai salah satu perusahaan penyedia infrastruktur telekomunikasi terbesar di Indonesia, TBIG memang membutuhkan sumber daya manusia yang memahami jaringan dan teknologi lapangan.
Berdiri sejak 2004, perusahaan tersebut kini memiliki dan mengoperasikan lebih dari 21 ribu site telekomunikasi di seluruh Indonesia. Bisnis utama TBIG adalah menyewakan ruang pada site telekomunikasi untuk pemasangan antena dan perangkat transmisi sinyal nirkabel milik operator telekomunikasi di Indonesia melalui kontrak jangka panjang.
Di balik menjulangnya ribuan tower telekomunikasi di berbagai daerah, tersimpan kebutuhan besar terhadap tenaga kerja terampil yang siap menghadapi perkembangan teknologi komunikasi digital.
Bagi siswa-siswa SMK HS Agung, kunjungan itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun dari ruang laboratorium dan perangkat jaringan yang mereka lihat secara langsung, terselip gambaran mengenai masa depan yang ingin mereka capai hingga ingin menjadi bagian dari industri telekomunikasi yang terus tumbuh di Indonesia. (RH)






