Jatengpress.com, Kota Mungkid – Ribuan ketupat ludes dalam hitungan menit digerebeg warga masyarakat. Pemandangan tersebut terlihat dalam tradisi Grebeg Kupat 2026 yang digelar di Lapangan drh Soepardi Sawitan Kota Mungkid, Sabtu (28/03/2026).
Dalam tradisi tahunan kali ini, ribuan ketupat tadi dipajang dalam bentuk 7 gunungan. Setiap gunungan berhiaskan 1.000 ketupat, di antaranya berisi vocer belanja di UMKM dan uang pecahan Rp 5.000.
Kegitan yang merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-42 Kota Mungkid ini magnet masyarakat dari berbagai wilayah.
Sebelum digerebeg, 7 gunungan kupat diarak dari halaman Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) An-Nuur menuju lokasi acara.
Kirab diawali kembul bujono dan doa bersama. Serta potong tumpeng oleh Bupati Grengseng Pamuji kemudian diserahkan kepada Ketua Pengelola MAJT An-Nuur, Asfuri Muhsis.
Sejak pagi, ribuan warga sudah hadir memadati lokasi untuk menyaksikan sekaligus mengikuti prosesi grebeg (perebutan) gunungan ketupat yang sarat makna filosofis.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji mengatakan, Grebeg Kupat sebagai bentuk kedekatan antara pemerintah daerah dengan masyarakat, sekaligus simbol persatuan dalam membangun daerah.
“Grebeg Kupat ini menjadi sarana hubungan antara pemerintah daerah dengan masyarakat untuk menyatu dalam mewujudkan visi pembangunan,” katanya.
Secara filosofis, menurut dia, kupat itu melambangkan suatu pengakuan atas kesalahan (‘ngaku lepat’ – Jawa). Dalam momen Idul Fitri seperti ini merupakan modal membangun ke depan.
Tentang pemilihan jumlah 7 gunungan, dia menyebut juga bukan tanpa makna. Angka 7 (pitu -Jawa) menjadi simbul untuk mohon pertolongan (pitu-lungan) atau petunjuk, dan nasihat kebaikan.
“Tujuh gunungan ini melambangkan petulungan, petuduh, dan petutur. Harapannya Kabupaten Magelang selalu mendapat berkah serta dalam menjalankan pemerintahan kami diberikan pertolongan dan petunjuk,” imbuhnya.
Grengseng berharap, tradisi Grebeg Kupat mampu menjadi tarik wisata sekaligus meningkatkan perputaran perekonomian. Terutama bagi pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM).
Evaluasi Tata Kelola
Meski berlangsung meriah, Bupati menyoroti pentingnya evaluasi tata kelola kegiatan agar ke depan lebih tertib dan aman bagi masyarakat.
“Ke depan panitia perlu memperbaiki tata kelola. Harus diatur dengan jelas kapan gunungan bisa diambil agar tidak menimbulkan risiko seperti berdesakan atau terinjak. Ini penting supaya warga masyarakat tetap aman dan nyaman,” tegasnya.
Menyinggung informasi dugaan aksi pencopetan di tengah kerumunan, juga mendapat perhatian serius Kapolresta Magelang Kombes Polisu Herbin Sianipar.
“Kami masih mengumpulkan data apakah benar terjadi tindak pidana pencopetan atau kemungkinan kelalaian seperti barang jatuh atau hilang. Ini masih ditangani oleh anggota di lapangan,” jelas Herbin.
Dia menegaskan, jika benar terjadi, hal tersebut akan menjadi bahan evaluasi bagi kepolisian dalam pengamanan kegiatan masyarakat ke depan.
“Kami mengimbau masyarakat yang mengikuti kegiatan dengan kerumunan besar agar selalu menjaga barang pribadinya. Jika terjadi tindak pidana, segera laporkan kepada petugas di lokasi,” tambahnya.
Selain Grebeg Kupat, rangkaian acara Hari Jadi Kabupaten Magelang masih akan berlanjut dengan pertunjukan wayang orang, Sabtu (28/03/2026) malam hari. Disusul festival Balon Udara pada Minggu (29/03/2026) jam 06.00 WIB.
Pemerintah berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan aman, tertib, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. (TB)






