Jatengpress.com, Borobudur – Ribuan warga tampak amat antusias mengikuti pengobatan gratis dalam peringatan Tri Suci Waisak 2570 BE di Taman Lumbini kompleks Taman Wisata Borobudur, Sabtu (23/05/2026).
Di sela kegiatan itu, Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia) ikut mendata warga yang terindikasi mengidap TBC.
Wakil Ketua Panitia Waisak Nasional 2026, Karuna Murdaya, mengatakan, ada berbagai macam penyakit diderita dari ribuan peserta pengobatan gratis itu. Seperti cabut Lipoma (operasi tumor jinak), Kista, dan jenis lain di level kulit, bukan level dalam.
Juga ada operasi skrining, katarak dan TBC. Baksos kali ini melibatkan sekitar 500 tenaga kesehatan dan 300 dokter.
Tahun ini, lanjut Karuna, ada rombongan chikung yang datang sebagai relawan dan pertama kali melakukan terapi energi.
Walubi mendukung kebijakan Pemprov Jawa Tengah untuk memerangi dan memberantas TBC, dengan dimulainya skrining menggunakan mobil rontgen. Karena Indonesia adalah negara nomor 2 paling banyak kasus TBC di dunia, setelah India.
Jumlah korban TBC di Indonesia setiap tahun lebih dari 100 ribu. Di Amerika jumlah korban TBC tak sampai seribu.
“Ini jadi PR-nya Indonesia. Bagaimana bisa menurunkan kasus TBC. Kami sangat mendukung di lokasi mana pun yang ada kantornya Walubi,” tandas Karuna.
Dia menjelaskan, pengobatan gratis merupakan rangkaian rutin sejak 1994 atau lebih dari 30 tahun. Tetapi baksos di Borobudur yang berkaitan dengan Waisak dimulai pada 2001.
Dalam Waisak, menurut Karuna, ada momentum yang bisa merefleksi untuk moralitas dan kemanusiaan sebagai umat Buddha. Salah satu ajarannya adalah kepedulian sosial, cinta kasih, welas asih kepada semua makhluk, manusia dan binatang.
“Karena itu, bakti sosial ini merupakan salah satu praktik darma sebelum acara puncak Waisak,” jelasnya.
Dirjen Bimas Buddha Kementerian Agama RI, Supriyadi, mengatakan, kementeriannya menyambut baik atas konsistensi DPP Walubi bersama lembaganya yang senantiasa memberikan pengabdian kepada bangsa dan negara.
Dia menilai hal itu mencerminkan bahwa agama tidak hanya sebagai dasar spiritual , tetapi juga dalam praktuk bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program Kementerian Agama yang salah satunya adalah kemanusiaan dan kemaslahatan bagi semua umat. Tidak membeda-bedakan, tetapi merupakan keterbukaan dari semua anggota masyarakat
Ketua Umum Walubi, Siti Hartati Murdaya mengingatjan, sebagai generasi penerus Indonesia, tidak boleh melupakan jasa-jasa pahlawan bangsa. Indonesia sudah merdeka, harus terus melanjutkan cita-cita luhur untuk Indonesia sekarang dan yang akan datang.
“Para bhiku Sangha dan umat Buddha berdoa agar cita-cita mulia untuk Indonesia maju dan jaya tidak dilupakan,” katanya. (TB)




