Menteri Abdul Mu’ti Tegaskan Komitmen Pendidikan Inklusif saat Kunjungi SLB di Purwokerto

Purwokerto, Jatengpress.com — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, melakukan kunjungan ke Sekolah Luar Biasa (SLB) B Yayasan Kesejahteraan Usaha Utama (YAKUT) di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (25/4). Kunjungan ini menjadi penegasan komitmen pemerintah dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif dan merata bagi seluruh anak Indonesia, termasuk anak berkebutuhan khusus.

Suasana sekolah tampak semarak sejak pagi. Ratusan siswa, guru, tenaga pendidik, serta pengurus yayasan berkumpul untuk menyambut kedatangan menteri beserta rombongan. Kehangatan terasa saat Menteri Abdul Mu’ti menyapa para siswa dengan ucapan salam yang langsung dijawab antusias melalui bahasa isyarat oleh para siswa tuna rungu.

Salah satu siswa, Septi Wulandari, mewakili teman-temannya menyampaikan sambutan selamat datang dengan didampingi guru penerjemah. Momen tersebut mencerminkan semangat dan kepercayaan diri para siswa dalam berinteraksi.

Dalam sambutannya, Menteri Abdul Mu’ti menegaskan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama dalam memperoleh layanan pendidikan yang layak. Hal tersebut, menurutnya, merupakan amanat undang-undang yang harus didukung oleh seluruh elemen masyarakat.

Ia mengungkapkan bahwa jumlah anak berkebutuhan khusus terus meningkat, baik karena pertumbuhan jumlah maupun meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mengakui kondisi anak mereka. Pemerintah pun memberikan perhatian khusus, termasuk rencana penambahan satu hingga dua SLB baru di Jawa Tengah pada tahun ini.

Selain itu, pemerintah juga mengembangkan konsep pendidikan inklusi berbasis masyarakat, di mana proses belajar tidak hanya berlangsung di sekolah formal, tetapi juga dapat dilakukan di lingkungan rumah dan komunitas.

Menteri Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa masih terdapat stigma di masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus, seperti anggapan sebagai kutukan atau rasa malu dari keluarga. Ia menegaskan bahwa pandangan tersebut perlu diluruskan melalui edukasi dan pendekatan yang humanis.

Untuk itu, pemerintah menjalankan tiga program utama, salah satunya adalah penguatan pendidikan inklusif. Dalam sistem ini, anak berkebutuhan khusus belajar bersama anak-anak lainnya di sekolah umum.

Menurutnya, pendidikan inklusif memiliki dua tujuan utama, yakni membangun rasa percaya diri anak berkebutuhan khusus serta menumbuhkan sikap penerimaan dan empati dari anak-anak lain.

“Anak-anak berkebutuhan khusus adalah bagian dari generasi Indonesia. Mereka adalah harapan bangsa yang harus kita rangkul, bukan kita singkirkan,” tegasnya.

Kunjungan ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam mendorong kesadaran publik serta memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menciptakan sistem pendidikan yang benar-benar inklusif.