Jatengpress.com, Semarang – Sebanyak 79 siswa kelas 5 SD Marsudirini, Jalan Pemuda 157, Kota Semarang mengikuti kegiatan perkemahan Jumat-Sabtu (Perjusa).
Perjusa yang merupakan program rutin tahunan sekolah, untuk tahun 2026 ini diadakan di objek wisata dan perkemahan Eling Bening, Ambarawa, Kabupaten Semarang, pada Jumat hingga Sabtu (17-18/4/2026).
Kepala SD Marsudirini, Veronica Sri Winarni SPd menerangkan, outing class berupa Perjusa dilaksanakan untuk membentuk karakter kemandirian anak, menanamkan karakter anak supaya memiliki iman kuat, cerdas, santun, dan peduli, mencintai sesama dan mengenalkan anak untuk cinta alam.
“Perjusa kelas 5 SD Marsudirini tahun 2026 ini diikuti 79 siswa, bertempat di perkemahan Eling Bening, Bawen, Ambarawa, Kabupaten Semarang, 17-18 April, Didampingi semua guru, sebanyak 17 guru,” kata Veronica Sri Winarni didampingi Suster Elisabeth, koordinator kampus TK, SD dan SMP Marsudirini.
Bu Win, panggilan akrab Veronica Sri Winarni mengungkapkan, selama rangkaian perkemahan berlangsung penuh keceriaan pada anak-anak.
Bahkan sejak persiapan berangkat dari sekolah, anak-anak sudah antusias sekali ingin segera berangkat untuk menikmati suasana outing class, suasana berkegiatan bersama-sama di luar sekolah.
“Selama di sana (perkemahan Eling Bening) anak-anak yang datang dengan tiga bus, senang banget. Sebelum berangkat berkemah, mereka sudah bermimpi lama untuk merasakan tidur di kemah itu bagaimana. Sebelum Perjusa, anak-anak sudah mendapatkan pembekalan dan pelatihan. Di perkemahan mereka kita bagi, setiap regu terdiri 10 anak. Satu regu dibagi dua tenda, jadi mereka tidur di 20 tenda dome (tenda berbentuk kubah),” tutur Sri Winarni.

Selama di perkemahan, diisi kegiatan-kegiatan yang seru dan menyenangkan. Kegiatan diawali upacara pembukaaan dan pemberian motivasi kepada anak didik, bahwa camping bukan sekedar pindah tidur, tapi sekolah kehidupan sekaligus sekolahan alam, belajar tentang bagaimana hidup di alam terbuka menyatu dengan alam terbuka.
Malamnya hari pertama setelah makan malam anak-anak ada acara api unggun. Karena api unggun dibuat untuk renungan, anak-anak mengikuti acara itu dengan sepenuh hati. Di api unggun ada pembacaan Dasa Dharma Pramuka dan atraksi dari anak-anak tiap regu. Dilanjutkan tenungan malam menjelang tidur, dan keesokan paginya ddoa pagi menghadap Rawapening dari ketinggian,” ujar Sri Winarni.
Selama Perjusa, murid juga mengikuti sejumlah game, serta pemberian reward tenda paling rapi, terbersih, dan regu tergiat.

Pada sesi hiking dengan tujuh pos, anak-anak harus mengerjakan tantangan di setiap pos, antara lain menerjemahkan kode semaphore beregu, mengerjakan soal pengetahuan umum, baris berbaris, permainan edukatif dengan bola, tali temali, dan lainnya.
Salah satu orangtua murid, Novita K mengaku senang dan mendukung, Maisy anaknya mengikuti kegiatan Perjusa ini.
“Sebagai salah satu orangtua, saya sangat setuju dengan kegiatan perjusa untuk melatih anak supaya mandiri bisa mengenal lingkungan alam, dan percaya kepada pihak sekolah bisa menjaga anak-anak dengan baik pada kegiatan tersebut,” tutur Novita, ibu dari Maisy, salah seorang murid.
Novita yang juga alumni sekolah Marsudirini juga mengungkapkan, kegiatan Perjusa tersebut bermanfaat untuk mendidik anak secara aplikatif untuk mandiri, berlatih tanggung jawab, pentingnya kerjasama, dan disiplin.
Hal senada diungkapkan Ny Inge dan Ny Melly, juga orangtua murid. Mereka turut antusias atas kegiatan Perjusa tersebut, dimana bisa melatih anak hidup mandiri di alam bebas dengan dididik para guru. (CIP)






