Senyum dari Bragolan, Purwodadi Menyapa Rusia, Kisah UMKM Difabel Menembus Batas Dunia

Jatengpress.com,Purworejo-Sore itu, suasana Desa Bragolan, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, terasa berbeda. Senyum para pelaku UMKM difabel tampak merekah saat rombongan tamu dari negeri jauh, Rusia, melangkah menyusuri desa, pada Senin (02/02/2026).

Bukan sekadar kunjungan biasa, kehadiran akademisi dari Novosibirsk State Pedagogical University (NSPU) membawa harapan baru bagi upaya pemberdayaan ekonomi inklusif di tingkat desa.

Enam mahasiswi NSPU bersama seorang dosen pendamping datang untuk melihat lebih dekat bagaimana potensi lokal Desa Bragolan tumbuh di tangan para pelaku UMKM difabel. Mereka menyapa, mendengar cerita, dan mengamati langsung proses produksi berbagai hasil karya, mulai dari olahan pangan hingga kerajinan tangan yang dibuat dengan ketekunan dan kreativitas tinggi.

Di salah satu sudut rumah produksi, diskusi hangat pun terjadi. Para mahasiswi dengan antusias memberikan masukan tentang desain kemasan yang lebih menarik, pemilihan warna, hingga ide promosi visual yang mudah dipahami konsumen. Bahasa dan budaya yang berbeda tak menjadi penghalang. Senyum, gestur, dan semangat berbagi pengetahuan menjadi bahasa universal yang menghubungkan mereka.

Bagi para mahasiswa NSPU, kunjungan ini menjadi pengalaman berharga. Mereka tidak hanya belajar tentang kewirausahaan, tetapi juga menyaksikan secara langsung bagaimana semangat kemandirian tumbuh di tengah keterbatasan. Model pemberdayaan berbasis potensi lokal yang diterapkan di Bragolan memberi perspektif baru tentang ekonomi inklusif yang berkelanjutan.

Sementara itu, bagi para pelaku UMKM difabel, kehadiran tamu internasional menjadi suntikan motivasi. Produk-produk yang selama ini dipasarkan secara terbatas kini mendapat perhatian lebih luas. Mereka merasa dihargai, didengar, dan diyakinkan bahwa karya mereka memiliki nilai yang mampu bersaing.

Sekretaris Desa Bragolan, Joko Susilo, menyebut kunjungan ini sebagai momentum penting bagi desa. Menurutnya, kolaborasi lintas negara tidak hanya membawa pengetahuan baru, tetapi juga kepercayaan diri bagi pelaku UMKM difabel.

“Ini bukan hanya soal pemasaran produk, tetapi tentang membangun keyakinan bahwa mereka mampu mandiri dan berdaya saing. Potensi lokal Bragolan hari ini mulai dikenal dunia,” katanya disela-sela kegiatan.

Lebih dari sekadar pertukaran ilmu, pertemuan di Desa Bragolan menjadi ruang berbagi nilai kemanusiaan. Dari desa inklusif di Purworejo, terjalin persahabatan lintas budaya yang membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk tumbuh dan bermimpi lebih besar. (AYG)

Terbaru