Jatengpress.com, Magelang – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang, Nurwiyono Slamet Nugroho, menyebut instansinya tak lagi sekadar “penjaga museum”. Tetapi fasilitator 4 pilar utama; perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan.
”Kota Magelang memang kecil secara geografis, tapi secara historis dan budaya, kita adalah raksasa,” kata Nurwiyono, dalam Dialog Budaya Tahun 2026 bertajuk “Pemajuan Kebudayaan”.
Acara di Aula Cendikia, Jumat (30/01/2026) menghadirkan narasumber ahli di bidang kebudayaan, yakni Maria Frimarini Nila W dan Khaji Habib.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono dan Wakil Wali Kota Magelang dr. Sri Harso juga hadir. Forum diikuti puluhan pegiat seni, akademisi, dan tokoh masyarakat.
Nurwiyono menyatakan forum itu merupakan langkah konkret pemerintah dalam menjalankan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Tantangan sekarang, kata dia, adalah bagaimana 10 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) di Kota Magelang. Mulai dari seni pertunjukan hingga naskah kuno, bisa menjadi motor ekonomi kreatif tanpa menghilangkan kesakralannya.
Pihaknya berharap masukan dari para narasumber dan akademisi dapat menjadi landasan kebijakan strategis bagi Pemkot Magelang ke depan.
“Kami ingin mewujudkan ekosistem yang harmonis dan humanis, menjadikan Kota Magelang sebagai rumah bersama bagi para seniman dan budayawan,” imbuhnya.
Ruang diskusi antaravpemerintah dan pelaku budaya itu diapresiasi oleh Wali kota Magelang Damar Prasetyono.
Menurut dia, dialog bukan sekadar seremonial, namun sarana untuk mengisi “ruang jiwa dan pikiran” guna melahirkan referensi baru dalam membangun kota.
”Dialog sangat penting untuk menyamakan persepsi dan membangun kepercayaan. Dalam konteks kebudayaan, peran pemerintah bukan untuk mengendalikan, tetapi membina”.
“Dan memastikan ekosistem kebudayaan tetap lestari, berkembang, serta memberi makna nyata bagi masyarakat,” ujar Damar.
Dia sempat menyinggung fenomena sosial yang terjadi belakangan ini, yakni terkait laporan pencurian penutup gorong-gorong di sejumlah titik di Kota Magelang.
Ia menyatakan, tindakan pencurian tersebut bukanlah cerminan budaya masyarakat Kota Magelang.
Damar yakin itu bukan budaya orang Kota Magelang. Kita butuh menumbuhkan budaya baru, yaitu budaya peduli.
“Saling mengingatkan bahwa mencuri itu tidak baik dan membahayakan orang lain. Inilah esensi kebudayaan yang sebenarnya, yakni perilaku dan etika hidup bermasyarakat,” tambahnya. (TB)







