Jatengpress.com, Magelang — Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Wibowo Prasetyo, menghadiri Perayaan Pentakosta dan Festhink ke-5 di Gereja Santo Yusup Wonokerso, Kabupaten Magelang, Sabtu (23/05/2026).
Dia pun menyampaikan ucapan selamat atas perayaan Hari Raya Pentakosta kepada umat Kristiani, khususnya umat Katolik yang merayakan momentum turunnya Roh Kudus sebagai pengingat pentingnya semangat persatuan, pelayanan, dan kasih di tengah kehidupan bermasyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Wibowo Prasetyo, Anggota Komisi VIII DPR RI, menyerahkan bantuan Alkitab kepada panitia dan umat. Juga mengapresiasi semangat kebersamaan masyarakat Desa Tirtosari yang dinilainya menjadi contoh baik toleransi dan kehidupan lintas iman yang harmonis.
“Kebersamaan dan toleransi antarumat beragama di desa ini cukup baik. Masyarakat saling mendukung kegiatan keagamaan satu sama lain. Ini bukti bahwa kebhinekaan bukan hanya slogan, tetapi hidup dalam keseharian masyarakat,” kata Wibowo, wakil rakyat dari Dapil Jateng VI.
Dia mengapresiasi keterlibatan warga dalam menyukseskan Festhink ke-5 sebagai cerminan kuatnya budaya gotong royong dan persaudaraan.
Di tengah perkembangan zaman digital yang serba cepat, kegiatan seperti Festhink menjadi ruang penting bagi generasi muda untuk menjaga nilai, kebersamaan, dan semangat pelayanan. Bagi OMK Wonokerso, menjaga nyala bukan sekadar menjaga iman tetap hidup, tetapi juga menjaga kepedulian sosial dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Festhink.
Sementara dalam rangkaian perayaan itu, terlihat jelas semangat orang muda kembali menyala dalam perayaan lewat Festhink ke-5 bertema “Menjaga Nyala” yang digelar Orang Muda Katolik (OMK) Gereja Santo Yusup Wonokerso.
Perayaan diawali Ekaristi yang begitu khidmat. Lalu, festival kreativitas dan pesta umat yang melahirkan suasana kebersamaan sekaligus ruang refleksi bagi generasi muda agar tetap memiliki arah, semangat, dan keterlibatan sosial di tengah tantangan zaman.
Romo Antonius Dodit Haryono Pr, dalam Homilinya menegaskan, karya Roh Kudus selalu menggerakkan manusia menuju tujuan yang baik bersama-sama.
Dia menyebut Pentakosta menjadi kebalikan dari kisah Menara Babel. Jika Babel memecah manusia karena perbedaan bahasa dan tujuan, sedangkan Pentakosta justru mempersatukan keberagaman dalam iman dan tujuan yang sama.
Perayaan Ekaristi dipimpin sejumlah imam Keuskupan Agung Semarang. Yakni, Romo Aloysius Dodit Haryono Pr, Romo Johanes Wegig Hari Nugroho Pr, Romo Yohanes Dwi Harsono Pr, Romo Romualdus Subyantara Putra Perdana Pr, dan Romo Emanuel Maria Supranowo Pr.
Kehadiran para imam menjadi simbol dukungan gereja terhadap gerakan kaum muda agar tetap kreatif, reflektif, dan relevan menjawab perkembangan zaman.
Panitia bidang acara Festhink, Yosafat Ragil, menjelaskan, nama “Festhink” mengandung makna mendalam. Kata “ting” diambil dari bahasa Jawa yang berarti cahaya atau lampion sebagai simbol harapan dan semangat, lalu dipadukan dengan kata “think” agar nyala itu tidak berhenti sebagai emosi sesaat, melainkan berkembang menjadi gagasan dan tindakan nyata.
Tema “Menjaga Nyala” dipilih karena banyak anak muda dipandang mulai kehilangan gairah, dalam kehidupan sosial, bermasyarakat, dan kehidupan menggereja.
“Kadang nyalanya besar, kadang kecil. Tapi tetap harus dijaga supaya tidak padam,” ujar Ragil. (TB)



