Merti Desa Baledono Jadi Titik Awal Harmoni, Budaya, dan Visi Lurah Baru

Jatengpress.com,Purworejo-Suasana hangat penuh kebersamaan menyelimuti Kelurahan Baledono, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo, saat rangkaian tradisi Merti Desa sukses digelar selama beberapa hari pada pertengahan Januari 2026. Tradisi tahunan yang sarat nilai spiritual dan budaya ini menjadi ruang perjumpaan antara warisan leluhur, realitas kekinian, dan harapan masa depan masyarakat.

Rangkaian Merti Desa dimulai sejak Rabu (14/1/2026) dengan ziarah kubur ke makam para leluhur Kelurahan Baledono dan tokoh masyarakat Purworejo. Kegiatan ini dilanjutkan dengan tahlilan serta selamatan desa atau kenduri agung sebagai wujud rasa syukur dan doa bersama.

Lurah Baledono, Tsabit Taqiyyuddin mengungkapkan, rasa syukurnya atas terselenggaranya seluruh rangkaian kegiatan dengan lancar dan penuh kebersamaan.

“Ini adalah bentuk penghormatan kepada para pendahulu sekaligus ikhtiar spiritual agar Kelurahan Baledono senantiasa diberi keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan,” kata Tsabit saat ditemui di kantornya, Selasa (20/01/2026) sore.

Rangkaian kegiatan berlanjut pada Kamis dengan pengajian umum dalam rangka peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW, yang menjadi momentum penguatan nilai religius sekaligus mempererat ikatan sosial antarwarga.

Puncak Merti Desa digelar pada Sabtu malam (17/1/2026) melalui pagelaran wayang kulit yang disambut antusias masyarakat. Dalang kondang Ki Santoso Joko Bledek membawakan lakon Wisanggeni Krido, kisah putra Arjuna yang sarat makna keberanian, keteguhan, dan kekuatan karakter. Pagelaran budaya ini turut dihadiri Wakil Bupati Purworejo, Dion Agasi Setiabudi, sehingga menambah semarak acara.

“Lakon Wisanggeni kami maknai sebagai simbol potensi besar pemuda dan masyarakat Baledono. Harapannya, potensi tersebut dapat menjadi kekuatan masa depan kelurahan,” jelas Tsabit.

Sebagai lurah yang baru mengawali tugasnya pada awal 2026, Tsabit menyadari kompleksitas wilayah yang dipimpinnya. Dengan 10 RW, 63 RT, dan jumlah penduduk hampir 11 ribu jiwa, Baledono merupakan kelurahan yang majemuk, dihuni warga asli maupun pendatang dari berbagai daerah.

“Kemajemukan ini adalah tantangan sekaligus kekuatan. Saya berkomitmen bersikap adil, solutif, dan selalu berpihak pada kepentingan warga,” tegasnya.

Ke depan, Tsabit memberi perhatian besar pada pengembangan potensi generasi muda. Ia berkomitmen mendorong kreativitas anak muda melalui pendekatan kekinian, seperti pemanfaatan media digital, pengembangan hobi, hingga ekonomi kreatif berbasis komunitas.

Kelurahan Baledono yang dikenal sebagai kawasan perdagangan juga memiliki banyak pengusaha muda yang mulai merambah dunia digital. Potensi tersebut akan menjadi bagian dari program pemberdayaan masyarakat tahun 2026 dan direncanakan berkelanjutan di tahun-tahun berikutnya.

Tak hanya ekonomi, Baledono juga menyimpan kekayaan wisata dan sejarah, mulai dari wisata religi Makam Simbah Kyai Imam Puro, destinasi rekreasi Kolam Renang Arta Tirta dan Taman Kota Geger Menjangan, hingga situs bersejarah Kedung Putri serta batu lingga yoni yang diperkirakan berusia ratusan bahkan ribuan tahun.

“Harapan saya sederhana, semoga bersama seluruh warga kita bisa membawa Baledono menjadi kelurahan yang sejahtera, guyup rukun, mandiri, dan berdaya saing,” pungkas Tsabit. (*)