Jatengpress.com, Karanganyar– Tokoh nasional dan akademisi Anies Rasyid Baswedan mengingatkan pentingnya transformasi peran pendidik Muhammadiyah dalam menghadapi era disrupsi yang ditandai dengan perubahan cepat di bidang teknologi, sosial, dan budaya. Menurutnya, dunia pendidikan dituntut untuk tidak berjalan dengan pola lama jika ingin tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Hal tersebut disampaikan Anies saat menghadiri silaturahmi dan dialog pendidikan bersama keluarga besar Muhammadiyah Karanganyar di Gedung Dakwah Muhammadiyah Karanganyar, Jumat (30/1/2026) sore. Kegiatan ini diikuti ratusan kader Muhammadiyah dari berbagai unsur persyarikatan.
Acara tersebut dihadiri jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) dan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Karanganyar, perwakilan majelis dan lembaga, organisasi otonom, serta pimpinan cabang dan ranting se-Kabupaten Karanganyar. Delegasi Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Jenawi juga tampak hadir dan aktif mengikuti jalannya diskusi.
Dari unsur pendidikan tinggi, pimpinan Universitas Muhammadiyah Karanganyar (UMUKA) hadir bersama mahasiswa. Kehadiran berbagai elemen ini mencerminkan kuatnya perhatian Muhammadiyah terhadap pengembangan pendidikan sebagai fondasi pembentukan sumber daya manusia.
Dalam pemaparannya, Anies menegaskan bahwa pendidik masa kini tidak lagi cukup berperan sebagai penyampai materi pelajaran. Guru, menurutnya, harus mampu menjadi fasilitator yang membangun cara berpikir dan karakter peserta didik.
“Menjadi pendidik di era sekarang menuntut perubahan cara pandang. Guru tidak cukup hanya mentransfer pengetahuan, tetapi harus membentuk kemampuan berpikir dan sikap peserta didik agar siap menghadapi perubahan,” ujar Anies.
Ia kemudian memperkenalkan konsep empat kompetensi (4 K) utama yang perlu dikuasai pendidik, yakni kreatif, kolaboratif, kritis, dan komunikatif atau yang ia sebut sebagai resep 4K. Keempat kompetensi tersebut dinilai saling melengkapi dan menjadi kunci keberhasilan transformasi pendidikan.
“Kreatif berarti pendidik mampu menemukan cara-cara baru dalam mengajar agar proses belajar tetap hidup. Kolaboratif artinya pendidikan tidak bisa berjalan sendiri, tetapi harus melibatkan banyak pihak,” katanya.
Anies menambahkan, kemampuan berpikir kritis sangat penting di tengah derasnya arus informasi digital. Pendidik dituntut mampu menyaring informasi sekaligus membimbing peserta didik agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang keliru.
“Di era banjir informasi seperti sekarang, sikap kritis menjadi benteng utama. Guru harus menjadi contoh bagaimana bersikap cerdas dalam menerima dan mengolah informasi,” ucapnya.
Sementara itu, kemampuan komunikatif diperlukan agar pesan pendidikan dan nilai-nilai yang diajarkan dapat diterima dengan baik oleh generasi muda yang memiliki karakter dan cara berpikir berbeda dengan generasi sebelumnya.
Dalam kesempatan tersebut, Anies juga menyampaikan keyakinannya bahwa Muhammadiyah memiliki modal kuat untuk menjawab tantangan zaman. Menurutnya, tradisi pendidikan dan nilai berkemajuan yang dimiliki Muhammadiyah menjadi fondasi penting dalam menerapkan konsep pendidikan yang adaptif dan berorientasi masa depan.
“Sejak awal, Muhammadiyah dibangun dengan semangat pembaruan. Nilai inilah yang harus terus dijaga agar pendidikan Muhammadiyah tetap relevan dan memberi solusi bagi masyarakat,” katanya.
Kegiatan diakhiri dengan sesi tanya jawab yang berlangsung dinamis. Para peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdialog langsung dan menyampaikan berbagai persoalan pendidikan yang dihadapi di lapangan. Melalui kegiatan ini, diharapkan gagasan yang disampaikan dapat diterapkan secara konkret di lingkungan pendidikan Muhammadiyah hingga tingkat cabang dan ranting di seluruh Kabupaten Karanganyar. (Abdul Alim)







