Jatengpress.com, Kota Mungkid – Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disdagkop-UKM) Kabupaten Magelang menggulirkan program “Blonjo Warung Tonggo”, Rabu (06/05/2026).
Gerakan yang digarap bareng PT BPR Bank Bapas 69 ini diberlakukan secara bertahap. Dan bersifat wajib bagi para Aparatur Sipil Negeri (ASN) yang mengabdi di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magelang.
Pada tahap awal, baru diterapkan untuk pelaku usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) yang membuka warung-warung kecil di kawasan Kota Mungkid (Desa Deyangan, Kelurahan Sawitan serta Kelurahan Mendut.
Kepala Disdagkop-UKM, Edi Wasono, mengatakan, kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya pelaku umkm di Kabupaten Magelang.
“Tidak ada batasan minimal besaran uang dari dompet digital yang harus dibelanjakan, tergantung kesadaran masing-masing,” katanya, di sela soft launching “Blonjo Warung Tonggo” di Pendapa Rumah Dinas Bupati Magelang.
Mungkin setiap keluarga mengeluarkan uang belanja berkisar 1-1,5 juta per bulan. Tetapi bisa kurang atau lebih, disesuaika dengan kebutuhan masing-masing.
Uang yang dibelanjakan produk dari warung UMKM bersumber dari tunjangan kinerja (tukin) yang lebih dikenal dengan sebutan tambahan penghasilan tetap (TPP).
Kebijakan Pemkab Magelang tersebut, menurut Edi, direncanakan berlaku dua pekan ke depan. Mengenai besaran putaran ekonomi dari hasil transaksi dalam program ini baru akan diketahui bulan depan (Juni).
Sosialisasi dihadiri Bupati Grengseng Pamuji, Plh Sekda David Rudiyanto, para camat, kepala desa dan lurah di Kota Mungkid, serta 166 pelaku UMKM.
Materi sosialisasi menyangkut teknis yang diberlakukan transaksi nontunai. Bagi ASN diberi aplikasi dompet digital “stupa”. Sedang pelaku akan menerima pembayaran lewat “Qris Bapas 69”.
Dalam masa uji coba ini, seluruh ASN di lingkungan Pemkab Magelang diminta menunjuk 1-3 warung di dekat rumah tinggalnya yang akan menjadi tempat belanja mereka.
Kepala Bidang UMKM, Pujianto, menambahkan, program yang bersifat wajib bagi ASN ini diberlakukan secara bertahap.
Ditargetkan, 1.000 ASN di lingkungan Pemkab Magelang bisa bergabung program ini sepanjang tahun 2026. Kemudian, tahun depan berkembang menjadi 2.000 ASN dan seterusnya.
Hingga saat ini, sudah ada hampir 1.000 warung UMKM se Kabupaten Magelang yang telah diusulkan sebagai calon tempat belanja ASN.
Warung yang dipilih tidak sembarangan. Karena gerakan ini diarahkan untuk bisa menggairahkan warung-warung kecil agar tetap eksis.
Yakni, warung kelontong/sembako, warung makan/minum siap saji, warung peralatan rumah tangga, warung sayuran dan buah-buahan.
“Tak menutup kemungkinan, ada ASN di wilayah lain. Misal, di Kaliangkrik asal warung UMKM tersebut telah dipasangi barcode dari Bank Bapas 69,” tingkah Edi Wasono.
Sofiati (55), pemilik warung makan di Sawitan, menyambut program di atas. Karena membuka peluang lebih banyak pembeli mampir ke tempat usahanya.
Soal pembayaran bersifat non tunai. “Ya kalau sudah berjalan nanti tentu akan terbiasa,” katanya.
Sementara itu, Bupati Grengseng Pamuji berharap, gerakan ini tak hanya gerakan yang sekadar hidup di sore dan mati di esok paginya.
Dia berkeinginan, agar seluruh ASN di Kabupaten Magelang mau meneladani atau memberi contoh dalam gerakan tersebut.
Kalau gerakan ini berhasil maka dia yakin, perekonomian di Kabupaten Magelang ke depan akan tumbuh berbasis “Blonjo Warung Tonggo”.
“Karena di sinilah tempat perputaran ekonomi masyarakat,” kata Grengseng, meyakinkan. (TB)






