Jatengpress.com, Sukoharjo – Ketersediaan beras di kawasan Solo Raya dipastikan tetap dalam kondisi aman meskipun dibayangi dampak iklim ekstrem El Nino. Kepastian ini disampaikan dalam kunjungan kerja yang dilakukan anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Adik Sasongko, bersama Wakil Bupati Sukoharjo, Eko Sapto Purnomo, saat meninjau Gudang Bulog Telukan di Sukoharjo, Selasa (5/5/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Adik Sasongko menegaskan bahwa stok beras yang dikelola Perum Bulog masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk penyaluran bantuan pangan dari pemerintah. Ia menyebutkan, kondisi stok yang kuat serta distribusi yang berjalan lancar menjadi indikator bahwa ketahanan pangan di wilayah Solo Raya tetap terjaga meski menghadapi tantangan global.
Menurutnya, penyerapan gabah dari petani juga berlangsung optimal, sehingga mampu menjaga ketersediaan pasokan sekaligus mendukung stabilitas produksi di tengah potensi gangguan akibat El Nino. Ia pun mengimbau masyarakat agar tidak khawatir karena stok beras diproyeksikan cukup hingga tahun depan.
Sementara itu, Wakil Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo menekankan pentingnya penyerapan hasil panen sebagai strategi utama menjaga stabilitas pasokan. Ia menjelaskan bahwa pengelolaan stok di gudang telah menerapkan sistem First In First Out (FIFO) dengan baik, yang terlihat dari minimnya sisa beras lama.
Dari total stok yang tersedia, hanya sekitar 180 ton beras lama yang tersisa, menunjukkan perputaran stok berjalan sehat. Bahkan, tingginya serapan hasil panen membuat Bulog perlu menambah kapasitas dengan menyewa gudang tambahan.
Eko juga menambahkan bahwa fasilitas pengolahan di Gudang Telukan mampu menghasilkan beras berkualitas premium, sehingga kualitas beras yang didistribusikan kepada masyarakat tetap terjaga.
Di sisi lain, Pemimpin Cabang Bulog Surakarta, Nanang Haryanto, mengungkapkan bahwa total stok beras di Solo Raya saat ini mencapai sekitar 80.000 ton yang tersebar di 18 kompleks pergudangan, baik milik Bulog maupun gudang sewaan.
Ia menyebutkan, realisasi penyerapan gabah telah mencapai 58.000 ton atau sekitar 62 persen dari target tahunan sebesar 93.000 ton, dengan mayoritas berasal dari pengadaan tahun 2026.
Dari sisi harga, gabah di tingkat petani saat ini berada di kisaran Rp7.000 hingga Rp7.400 per kilogram, melampaui Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500. Meski demikian, Bulog tetap berfungsi sebagai penyangga harga sekaligus menjamin hasil panen petani terserap dengan baik.
Untuk menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen, Bulog terus menyalurkan beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), dengan harga Rp11.000 per kilogram di gudang dan harga eceran tertinggi Rp12.500 per kilogram. (*)




