Jatengpress.com,Purworejo-Siapa menyangka, upaya mengatasi banjir justru menjadi awal lahirnya usaha peternakan bebek petelur yang kini meraup ratusan juta rupiah per bulan. Kisah itu datang dari Muhamad Abdullah, pemilik Wardhana Farm di RT 6 RW 8 Kelurahan Baledono, Kecamatan Purworejo/Purworejo, Jawa Tengah.
Abdullah mengisahkan, sebelum mendirikan Wardhana Farm, dirinya hanya ingin menyelesaikan persoalan banjir yang kerap melanda kompleks perumahan tempat tinggalnya. Luapan air dari persawahan di sebelah timur perumahan setiap musim hujan sering masuk ke pemukiman warga.
Berbagai cara telah dilakukan, namun tak membuahkan hasil. Hingga akhirnya muncul gagasan membangun tembok pembatas.
“Membangun tembok di tanah orang kan tidak mungkin. Akhirnya saya mencari tahu siapa pemilik sawah dan apakah boleh dibeli,” kata Abdullah, Senin (23/02/2026).
Sawah tersebut akhirnya dibeli, kemudian dibangun pagar tembok untuk menahan air agar tidak lagi masuk ke lingkungan perumahan. Setelah persoalan banjir teratasi, muncul ide baru untuk memanfaatkan lahan tersebut.
Inspirasi beternak bebek petelur muncul menjelang Lebaran 2025, saat Abdullah membagikan telur bebek dalam jumlah banyak sebagai oleh-oleh.
“Dari situ muncul ide, kenapa tidak ternak bebek petelur sendiri,” ucap mantan anggota DPRD Kabupaten Purworejo itu.
Di atas lahan seluas 2.400 meter persegi, pada Maret 2025 ia mulai merancang kandang bebek petelur. Sebelum membangun, Abdullah melakukan studi lapangan ke sejumlah peternak untuk mempelajari sistem kandang yang efektif.
“Ide kandang saya kreasikan dari hasil belajar ke beberapa peternak. Idealnya satu kandang diisi 40 sampai 60 ekor agar mudah dikontrol,” jelasnya.
Kini Wardhana Farm memiliki 77 petak kandang dengan kapasitas sekitar 60 ekor per petak. Pada September 2025, sebanyak 5.000 ekor bebek jenis Mojosari, Solo, dan lokal Purworejo mulai diisi. Menurutnya, kualitas ketiganya relatif sama.
Untuk menjaga kesehatan ternak, sistem minum menggunakan nepel (nipple drinker), bukan model komboran. Cara ini dinilai lebih higienis dan mengurangi beban kerja pegawai.
Pakan yang digunakan berupa konsentrat murni dari pabrik yang divariasikan dengan daun pepaya dan kangkung hasil budidaya sendiri.
Dalam operasionalnya, Abdullah dibantu empat pegawai serta satu kepala kandang yang tinggal di lokasi peternakan.
Hasil produksi Wardhana Farm mencapai sekitar 4.000 butir telur per hari. Sebanyak 2.000 butir per minggu dipasok ke empat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sementara sisanya diambil pengepul setiap dua hari sekali untuk didistribusikan ke Jakarta dan sekitarnya.
Dengan harga Rp2.000 per butir, omzet usaha ini mencapai sekitar Rp240 juta per bulan. Abdullah menyebut keuntungan bersih yang diperoleh sekitar 25 persen atau sekitar Rp60 juta per bulan.
Meski demikian, Abdullah yang juga pemilik Akram Furniture itu enggan membeberkan total modal awal usaha.
“Kalau modalnya besar, mulai dari pembelian tanah sawah, pengurukan, pembangunan tembok, pembuatan kandang hingga pengadaan bebek,” paparnya. (AYG)






