Sekjen DPP Walubi : Dunia sedang Butuh Orang-orang Baik‎


Jatengpress.com, Borobudur – Air Berkah Waisak yang diambil dari Umbul Jumprit, Ngadirejo, Temanggung, tiba di Candi Mendut, Magelang, Sabtu siang sekitar pukul 14.30 WIB.

Di sini, air yang disimpan dalam 20 kendi tersebut disakralkan dan disemayamkan, sebelum dikirab menuju Candi Borobudur sebagai sarana puja dalam puncak perayaan Waisak 2570 BE.

Kedatangan air berkah disambut penuh oleh para bhikkhu sangha, pengurus Walubi, serta ribuan umat Buddha dari berbagai daerah.

‎Sekretaris Jenderal DPP WALUBI, Bhikkhu Kamsai Sumano Mahatera, menjelaskan, dalam ajaran Buddha air memiliki makna yang sangat mendalam. Air menjadi simbol cinta kasih, welas asih, dan kedamaian yang mengalir kepada seluruh makhluk.

‎”Makna air itu mengalir. Mengalir itu antara metta, cinta kasih dan kasih sayang kepada kita semua. Air suci itu merupakan upama dari kesucian Buddha yang mengalir kepada kita yang masih membutuhkan cinta kasih, kasih sayang, dan welas asih,” ujarnya.

Sifat air yang selalu mengalir, menurut Bhante Kamsai, menggambarkan kedamaian sekaligus kebersihan, baik secara lahir maupun batin.

‎”Kalau kita melihat air itu selalu mengalir, berarti damai. Air juga menjadi tanda kebersihan. Sang Buddha selalu memberi contoh bahwa kalau di fisik ada air dari sungai, air hujan, atau mata air, maka dalam dhamma ada air metta, air cinta kasih dan kasih sayang yang membuat semua makhluk berbahagia,” katanya.

Dalam tradisi Buddhis, Bhante Kamsai menuturkan, air sering dipakai sebagai simbol berkah dan penyucian diri. Sensasi sejuk dan segar yang diberikan air menjadi perlambang ketenangan dan kebersihan hati.

‎”Di tempat ibadah Buddha selalu ada air blessing atau air berkah. Ketika air mengenai tubuh kita terasa dingin dan segar. Untuk mandi maupun diminum, semuanya menjadi tanda kebersihan. Dalam dhamma juga demikian, yaitu metta, cinta kasih dan kasih sayang,” jelasnya.

‎Selain Air Berkah, umat Buddha juga membawa Api Dharma dari Mrapen yang menjadi bagian penting dalam perayaan Waisak. Menurut Bhante Kamsai, kedua unsur tersebut memiliki makna spiritual yang saling melengkapi.

‎”Besok kita membawa dua berkah besar. Berkah dari api yang bermakna terang dan kebijaksanaan. Kemudian air yang bermakna metta, cinta kasih, kasih sayang, serta wujud kedamaian dunia,” ungkapnya.

‎Dia menyebut tema utama Waisak tahun ini adalah mengangkat dhamma sebagai sumber kebijaksanaan dan metta sebagai jalan menuju perdamaian.

‎”Makna Waisak tahun ini ada dua, yaitu mengangkat dhamma menjadi kebijaksanaan dan mengangkat metta, cinta kasih serta kasih sayang untuk kedamaian,” katanya.

‎Tak lupa, Bhante Kamsai juga mengajak seluruh umat manusia untuk memperkuat persaudaraan di tengah kondisi dunia yang dinilainya semakin kehilangan rasa kebersamaan.

Kehilangan Persaudaraan.
‎”Tahun ini kita harus bersatu. Dunia sedang membutuhkan orang-orang baik untuk berkumpul. Dunia sekarang semakin kehilangan persaudaraan. Dalam ajaran Buddha tidak ada satu pun yang tidak disebut sebagai teman dan saudara. Semoga tahun ini menjadi momentum berkumpulnya saudara-saudara sedhamma, sesama manusia, dan juga alam,” tuturnya.

‎Dia menegaskan, inti ajaran Buddha yang diperingati dalam Tri Suci Waisak adalah menghindari perbuatan jahat, memperbanyak kebajikan, serta menyucikan hati dan pikiran.

‎”Waisak adalah dhamma yang membawa kebijaksanaan dan metta yang membuahkan kedamaian. Kita diajarkan untuk tidak berbuat jahat, banyak berbuat baik, dan menyucikan hati serta pikiran. Pikiran harus positif, ucapan membawa doa bagi sesama, dan perbuatan mencerminkan kebajikan,” ujarnya.

‎Setelah disemayamkan dan didoakan oleh para Sangha dari berbagai tradisi Buddhis, Air Berkah Waisak akan dikirab bersama Api Dharma menuju Candi Borobudur untuk mengikuti detik-detik puncak Tri Suci Waisak 2570 BE pada Minggu pagi.

‎”Semoga puncak Tri Suci Waisak menjadi momentum ketenangan, berkumpulnya kebijaksanaan, dan berkumpulnya metta, cinta kasih serta kasih sayang demi kedamaian dunia kita,” pungkas Bhante Kamsai. (TB)