Jatengpress.com, Borobudur – Ratusan umat Buddha dari berbagai negara melangitkan doa bersama demi perdamaian dunia, di Taman Asokbya kompleks Taman Wisata Borobudur, Kamis (28/05/2026).
Dipimpin oleh Dungzin Garab Rinponche dari Bhutan, acara bertajuk Nyingma Monlam Chenmo, berlangsung mulai sekitar jam 08.30 wib.
Ketua Panitia, Lama Rama Santoso Lim, menyebut umat Buddha yang hadir berasal dari Singapura, Malaysia, Vietnam, Hong Kong, Taiwan, Jepang dan China.
Ada juga Buddhis dari Eropa, yaitu dari Portugal, Perancis, dan Bulgaria. Selain itu ada yang dari Benua Australia dan beberapa perwakilan dari Amerika.
“Tahun ini berkurang sekitar 400-an sekian. Sebenarnya kami menyediakan 500 sampai 700. Berhubung karena ada kendala perang, akhirnya banyak yang batal,” terangnya.
Begitu juga dari domestik Indonesia. Panitia juga mengundang umat dari Medan, Pekanbaru, Jambi. Termasuk dari Bali, Jawa, dan Sulawesi. Ada sebagian yang membatalkan karena kendala penerbangan mereka.
Sebelum memimpin doa, Dungzin sempat menguraikan arti dan makna Nyingma Monlam. Dia menyebut itu merupakan kultur tradisi Dharma dari Tibet. Merupakan salah satu aliran besar dari Tibet.
Nying artinya yang lebih tua. Ma artinya penganutnya. Jadi setelah adanya ajaran Buddha masuk Tibet, kemudian ada aliran lain. Monlam merupakan aspirasi atau tradisi paling tua di Tibet. “Monlam adalah aspirasi agung,” ujar Dungzin.
Doa aspirasi.
Santoso Lim mengatakan, doa bersama itu digelar oleh Majelis Muni atau Majelis Agama Buddha Tantrayana Indonesia. Setiap setelah masa covid-19 melakukan doa aspirasi agung untuk perdamaian dunia dan NKRI. Ini merupakan tahun keempat.
Adapun maksud dan tujuannya adalah ingin mendoakan dunia, agar selalu damai dan sejahtera. “Termasuk semua masyarakat dan rakyat NKRI,” jelasnya.
Kecuali doa aspirasi agung, juga dilakukan harapan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Rangkaian acara hari pertama, diawali upacara Nyingma Monlam. Hari kedua, Krodikali Feast of Ring atau ritual pemberkatan agung dan persembahan suci dalam tradisi Buddhisme Vajrayana.
Pada 29 Mei 2026 malam, dilakukan larung Pelita Purnama Sidi di Sungai Progo. Kemudian, 30 Mei 2026 pagi, melakukan Merti Karuna Bumi.
“Itu semua sudah ada dalam adat istiadat Jawa. Kami kombinasikan dengan ajaran agama Buddha. Kami berkolaborasi untuk melakukan upacara-upacara tersebut,” tuturnya.
Setelah itu, pada 30 Mei 2026 malam dilakukan Borobudur Peace on Prosperiry. Lalu pada 31 Mei 2026 akan bergabung dengan Walubi melakukan upacara Waisak Nasional.2026.
Dia menandaskan, dalam peringatan Waisak tahun ini mengajak semua umat Buddha untuk selalu peduli kepada dunia.
Santoso Lim mengingatkan yang lebih penting adalah peduli pada lingkungan kita terlebih dahulu. Dari lingkungan kecil, mulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat kita. Setelah mendoakan lingkungan, juga membuat doa ekspresi yang besar untuk perdamaian yang lebih besar, yaitu untuk dunia,” tandasnya.
Mengenai peserta yang terlibat dalam kegiatan itu, dia berkata: sebenarnya panitia menyediakan 500-700 orang peserta dari berbagai negara. Namun karena terkendala perang antara Amerika, Israel dan Iran, akhirnya ada beberapa puluh orang yang membatalkan hadir.
“Padahal mereka sudah mendaftar dan sudah konfirmasi akan hadir, tetapi penerbangan yang tidak memungkinkan,” ujarnya.
Dijelaskan juga, kegiatan hari ini akan ditutup dengan keliling candi. Itu juga untuk mendoakan perdamaian dunia. Termasul mendoakan diri sendiri, keluarga dan lingkungan.
Penyelenggara kegiatan ini dari Sangha Tantrayana Vajrayana. Panitia juga mengundang sangha-sangha dari majelis-majelis lain. (TB)

