Mohon Keselamatan, Warga Silayur akan Gelar Tradisi Merti Desa dan Pertunjukan Wayang Kulit

Jatengpress.com, Semarang – Sering terjadinya musibah kecelakaan lalu-lintas di kawasan tanjakan/turunan Silayur, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, mengundang keprihatinan bagi sejumlah warga setempat.

Sebagai ikhtiar dsn turut peduli agar warga baik yang tinggal maupun yang melintas di kawasan tersebut dihindarkan dari berbagai musibah, warga kawasan Silayur akan menggelar hajatan selamatan merti desa.

Hajatan dimaksudkan memohon keselamatan, sekaligus menggali serta menghidupkan lagi tradisi dan budaya selamatan yang pernah diadakan oleh leluhur Silayur di masa silam.

Tokoh warga Duwet, Silayur, Asrondi yang juga Ketua RW 04 Kelurahan Beringin, Ngaliyan mengungkapkan, pada masa silam, rutin digelar Merti dusun atau selamatan dengan sedekah bumi, serta gelaran wayang kulit yang diadakan setiap bulan Apit, yaitu bulan di kalender penanggalan Jawa yang bertepatan dengan bulan Dzulqaidah di penanggalan hijriyah.

Bulan Apit adalah bulan sesudah Syawal dan bulan sebelum Besar di penanggalan Jawa, atau bulan sesudah Syawal dan sebelum Dzulhijjah di penanggalan hijriyah. Untuk tahun 2026 ini bulan Apit bertepatan dengan bulan Mei.

“Dulu sedekah bumi rutin diadakan setiap bulan Apit dipimpin kepala Dukuh Silayur Duwet, Mbah Kromo.  Hingga Mbah Kromo meninggal di tahun 1975, tradisi itu diteruskan oleh Mbah Nasir, dan berlangsung sampai tahun 1980, karena Mbah Natsir meninggal. Sejak saat itu tidak pernah lagi diadakan Merti dusun atau sedekah bumi,” tutur Asrondi, yang juga merupakan cucu dari Mbah Kromo.

Kini, setelah puluhan tahun tradisi tersebut terhenti, warga Duwet, Silayur ingin menggali dan menghidupkan lagi tradisi leluhur tersebut.

“Merti dusun, sedekah bumi, doa keselamatan diadakaan untuk nguri-uri budaya lama tradisional yang sempat terhenti sejak Mbah Natsir meninggal. Khususnya doa permohonan kepada Allah SWT agar warga kawasan Silayur ini, serta kawasan Ngaliyan dan Kota Semarang pada umumnya selalu diberikan keselamatan oleh Allah Swt,” ujar Asrondi.

Merti dusun dan wayangan rencananya akan digelar pada Sabtu, 16 Mei 2026 mendatang, bertempat di lapangan RT 02 Dukuh Silayur Duwet, Kelurahan Beringinn, Kecamatan Ngaliyan.

“Dari sehabis Ashar sedekah bumi, selamatan seluruh warga mengeluarkan hasil bumi, tumpeng, dan lain-lain, dilanjutkan malamnya pergelaran wayang kulit dengan dalang Ki Darmadi dari Semarang. Juga akan diadakan ziarah ke Makam Mbah Tumpuk yang diyakini cikal bakal Dukuh Duwet Silayur,” kata Asrondi didampingi Supadi, Ketua Panitia Merti Dusun Silayur, Beringin.

Merti desa diikuti warga silayur RW 04 Kelurahan Beringin dan RT 05 RW 10 Ngaliyan. Sekitar 600 warga diperkirakan akan mengikuti acara tersebut.

Supadi mengatakan, panitia sudah menerima konfirmasi akan hadirnya Walikota Semarang Agustina Wilujeng pada acara tersebut.

“Dulu wilayah Beringin dan Ngaliyan jadi satu, setelah ada pemekaran wilayah di Kota Semarang, sekarang wilayah jadi terpisah. Nah di Merti dusun ini nanti, kami akan ikuti bersama-sama. Pada intinya untuk nguri-uri budaya luhur, tradisi luhur yang sudah lama kita tinggalkan untuk kita gali lagi biar masyarakat tahu kalau kita punya budaya yang bagus. Jadi kita angkat lagi budaya kita yang sudah dilakukan pendahulu kita di wilayah Silayur Duwet. Kita sebagai generasi penerus kita meneruskan kita angkat lagi tradisi dan budaya itu. Kecelakaan lalu lintas itu bisa menimpa semua orang. Kemudian kalau di Silayur Ngaliyan ini sering terjadi kecelakaan, maka warga minta untuk berdoa bersama sekaligus menghidupkan tradisi luhur di Silayur yang pernah kita tinggalkan,” papar Supadi. (CIP)