Jatengpress.com, Banyumas – Di sebuah sore yang hangat di Taman Ismail Marjuki, langkah Nanang Anna Noor dan Eddy Pranata PNP terasa lebih pelan dari biasanya. Bukan karena ragu, tetapi karena setiap sudut tempat itu menyimpan kenangan lama yang kembali hidup.
Tiga puluh tahun bukan waktu yang sebentar.
Keduanya datang sebagai wakil dari Banyumas Raya untuk tampil di Malam Puisi Nasional, sebuah perhelatan yang digelar dalam rangka Hari Puisi Nasional. Namun, bagi mereka, ini bukan sekadar panggung—ini adalah ruang temu kembali dengan masa lalu, dengan kawan-kawan lama, dan dengan diri mereka yang dulu.
“Ini pertemuan kedua setelah 1996,” ujar Nanang, mengenang masa ketika ia masih sepenuhnya tenggelam dalam dunia puisi, jauh sebelum kini merambah dunia film. Ada jeda sejenak dalam ucapannya, seolah ia sedang memutar ulang potongan-potongan hidup yang pernah ia jalani.
Bagi Eddy, momen ini seperti membuka kembali lembar lama yang sempat tertutup debu waktu. Dulu, ia datang dari Lampung dengan semangat muda yang menyala. Kini, ia berdiri di tempat yang sama—namun dengan pengalaman, perjalanan, dan penghargaan yang telah mengisi hidupnya.
“Dulu kita bertemu di sini. Sekarang, kita dipertemukan lagi,” katanya singkat, tetapi sarat makna.
Acara ini memang menghadirkan 43 penyair dari berbagai penjuru Indonesia. Namun di balik angka itu, ada ratusan cerita: tentang perjuangan menulis, tentang kesetiaan pada kata, dan tentang waktu yang terus berjalan tanpa menunggu siapa pun.
Panitia, Kurnia Effendi, menyebut acara ini sebagai lebih dari sekadar peringatan. Ini adalah reuni bagi para penyair yang pernah tergabung dalam antologi Mimbar Penyair Abad 21—sebuah generasi yang tumbuh bersama kata-kata dan kini dipertemukan kembali oleh waktu.
Siang itu, diskusi sastra bertajuk “Wajah Puisi Terkini” mengalir hangat. Percakapan tentang puisi hari ini terasa seperti jembatan antara masa lalu dan masa kini. Sementara itu, di panggung, puisi-puisi dari antologi Suara yang Menolak Sunyi dibacakan—menggema, seolah menolak benar-benar dilupakan.
Namun mungkin, yang paling kuat bukanlah kata-kata yang dibacakan di atas panggung, melainkan yang tak terucap di antara para penyair: rasa rindu, bangga, dan kesadaran bahwa perjalanan mereka belum benar-benar usai.
Di tengah gemerlap ibu kota, dua penyair dari Banyumas itu berdiri—membawa bukan hanya puisi, tetapi juga cerita tentang waktu, pertemuan, dan kesetiaan pada suara hati yang tak pernah benar-benar sunyi. (*)






