Jatengpress.com, Banyumas – Debut pertama sutradara Hendra Lee dalam film horor Pocong Merah mendapat perhatian luas masyarakat Banyumas, Jawa Tengah. Terbukti penonton antusias mendatangi sejumlah bioskop yang memutar film ini. Apalagi tayangan perdana di Rajawali Cinema dan CGV Purwokerto ini menghadirkan langsung aktor dan aktris yang terlibat dalam film Pocong Merah.
Usai tayangan, para pemeran ini langsung diserbu penonton untuk berfoto- foto. Tampak hadir artis cantik Adinda Halona, Leoni Winar, Nabila Aurora, dan aktor Ferdian Ariyadi, Ahmad Pule serta Yogi Wanner. Hadir juga sejumlah pemain lainya yang mendukung film ini.
Film ini selain melibatkan pemeran yang sudah sering wara wiri di layar kaca dan layar lebar, juga banyak melibatkan pemain lokal. ” Alhamdulillah saya ikut dalam dalam film ini meski masih menjadi extras,” ujar Cinta yang diamini pemeran figuran lainnya.
Sebelum penayangan, Hendra Lee,
bersama para pemain dan tim promosi untuk menyapa penonton secara langsung. Hendra Lee mengungkapkan, film Pocong Merah terinspirasi dari kisah nyata yang disebut terjadi di Tanah Jawa. Cerita tersebut mengangkat tragedi seorang perempuan yang dituduh sebagai dukun santet hingga mengalami kekerasan dan kematian tragis.
“Warna merahnya bukan karena kain kafannya merah. Tetapi kain putih yang berlumuran darah. Namun karena tubuh pemeran dukun santet dalam film ini dimutilasi, darahnya bercucuran. Dari situlah muncul sebutan Pocong Merah,” ujar Hendra .
Diceritakan film ini berkisah tentang sosok Katiyem yang mencari kebenaran atas kematian yang dialaminya.
Hendra menjelaskan alasan memilih Purwokerto sebagai lokasi roadshow perdana. Selain karena dirinya berasal dari wilayah tersebut, proses syuting juga dilakukan 100 persen di Banyumas. “ Saya orang sini dan syutingnya di sini, syutingnya disini. Jadi kami berharap masyarakat Purwokerto bisa menerima film ini dengan baik sebelum melangkah ke kota-kota lain,” ujar pengagum aktor laga Bruce Lee ini.
Syuting dilakukan sekitar 10 hari di tengah musim hujan, yang menjadi tantangan tersendiri bagi tim produksi. “Dengan waktu terbatas dan kondisi hujan, kami tetap berusaha maksimal,” tambah Hendra.
Mantan stuntman film action ini merinci, pengembangan skenario dilakukan selama satu bulan, proses editing sekitar tiga bulan, sehingga total produksi memakan waktu kurang lebih lima bulan.
Salah satu pemain, Yogi Warner pemeran tokoh Aryo, seorang anak yang membalas dendam atas kematian ibunya yang dimutilasi menuturkan,banyak tantangan dalam film ini, seperti lokasi hutan yang licin karena hujan. ” Tetapi ini yang menarik dan semakin tertantang untuk memaksimalkan peran,” ujar Yogi.
Film yang mengusung dua latar waktu, yakni era tahun 90 an dan masa ini menceritakan Katiyem yang dituduh dukun santet dieksekusi beramal ramai oleh warga.
Aryo, anak Katiyem secara sembunyi melakukan ritual menghidupkan kembali arwah ibunya.
Film ini selain horor, juga sarat pesan moral. Sejumlah penonton mengaku terkesan dengan pesan moral film tersebut. Mereka menilai cerita ini mengingatkan masyarakat agar tidak mudah menuduh tanpa klarifikasi.
Strategi Promosi Berbasis Lokal
Sementara Adi Mulyadi selaku Marcom Check List Cinema menjelaskan strategi promosi film ini dimulai dari Purwokerto sebagai basis pasar utama. Menurutnya, latar lokasi, keterlibatan talenta lokal, serta figur sutradara menjadi potensi besar untuk menarik minat penonton Banyumas.
“Saya berharap penayangan pertama ini bisa diterima masyarakat Purwokerto, lalu berkembang ke kota-kota lain,” ujarnya.
Sekitar 400 penonton hadir dalam Roadshow perdana film Pocong Merah di bioskop Rahawali dan CGV Rita Supermall Purwokerto pada Rabu 19 Pebruari . (*)







