Seratus Perempuan Berkebaya Meriahkan Tradisi Ketok Pintu jelang Pasar Imlek Semawis 2026

Jatengpress.com, Semarang – Sekitar seratus perempuan berkebaya turut memeriahkan tradisi Ketok Pintu, Sabtu (7/2/2026), sebagai rangkaian mengawali akan digelarnya Pasar Imlek Semawis 2026, di Pecinan Semarang.

Pasar Imlek Semawis merupakan agenda rutin yang diselenggarakan oleh Kopi Semawis (Komunitas Pecinan Semarang Untuk Pariwisata) dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek.
Pasar Imlek Semawis merupakan keramaian pasar di Pecinan setiap menjelang tahun baru Imlek, merupakan bagian dari strategi untuk melestarikan dan mengembangkan warisan budaya tempo dulu, yang disebut pasar jie kauw meh atau 29 malam.

Tahun ini, Pasar Imlek Semawis 2026 akan digelar Jumat sampai Minggu, 13 hingga 15 Februari 2026, di ruas Jalan Wotgandul Timur hingga Gang Pinggir.

Di Pasar Imlek Semawis 2026, selama tiga hari pagi hingga malam hari, akan digelar aneka kuliner, atraksi kesenian dan budaya baik Tionghoa maupun Jawa, yang menggambarkan kolaborasi dan adanya akulturasi budaya Jawa-Tionghoa.

Pada tradisi Ketok Pintu, keberadaan para perempuan berkebaya tersebut, sebagai simbol akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa yang terjalin begitu erat dan kental di tengah masyarakat.

Exif_JPEG_420

PEREMPUAN BERKEBAYA : Barisan perempuan berkebaya turut serta pada prosesi Ketok Pintu, saat melintasi jalan Gang Pinggir, Semarang Tengah. Ketok Pintu yaitu berjalan kaki keliling Pecinan, Semarang Tengah, menandai akan diadakannya Pasar Imlek Semawis 2026, Jumat sampai Minggu, 13-15 Februari 2026. Foto : Sucipto


Tradisi Ketok Pintu dimulai pukul 11.00 di Kelenteng Tay Kak Sie, yang merupakan kelenteng besar di Pecinan, berupa doa selamatan oleh para pengurus Kopi Semawis dan panitia.
Hadir pada acara Ketok Pintu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Semarang Indriyasari, Ketua Kopi Semawis Harjanto Halim, serta sejumlah tokoh penting penyelenggaraan Pasar Imlek Semawis di antaranya Benita Eka Arijani, Widya Wijayanti, Alamsyah, serta unsur tokoh masyarakat serta aparat kelurahan Purwodinatan, LPMK, dan kelompok masyarakat.

“Ketuk Pintu merupakan tradisi pembuka rangkaian Pasar Imlek Semawis (PIS) di Pecinan Semarang, yang menandai awal Tahun Baru Imlek dengan doa bersama, memohon ijin dan perlindungan di 9 klenteng sekitar Pecinan Semarang. Dilaksanakan beberapa hari menjelang pelaksanaan PIS, dengan tujuan sebagai bentuk pernyataan ”kulo nuwun”, memohon doa restu agar PIS dan perayaan Imlek berjalan lancar serta aman,” ungkap Harjanto Halim, Ketua Kopi Semawis.

Ketok pintu merupakan simbol toleransi dan kelancaran rezeki, serta melibatkan partisipasi komunitas budaya dengan mengenakan kebaya bagi wanita dan baju adat nusantara bagi pria sebagai bentuk akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa.
Diawali dengan doa bersama di Kelenteng Tay Kak Sie, dilanjutkan berjalan kaki keliling Pecinan.
Saat jalan keliling klenteng diawali dengan barongsai dan dimeriahkan pula oleh beberapa komunitas wanita berkebaya dan bersanggul dari Semarang dan sekitarnya yang turut serta.
Sepanjang perjalanan yang dilalui, rombongan dipimpin Harjanto Halim membagi-bagikan brosur akan diadakannya Pasar Imlek Semawis.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari menyempatkan turut serta berjalan kaki bersama-sama rombongan Ketok Pintu. Dia berada di belakang barisan barongsai dan di antara para wanita berkebaya.

Rombongan dari Kelenteng Tay Kak Sie Jalan Gang Lombok 62, masuk ke Jalan Gang Pinggir, singgah di Kelenteng Tong Pek Bio, dilanjutkan ke Jalan Wotgandul Timur dan kawasan Pecinan lainnya,untuk kemudian kembali lagi ke Tay Kak Sie.
Maka selain sebagai tradisi kulonnuwun dengan singgah ke kelenteng-kelenteng yang ada, sekaligu juga berkabar kepada warga masyarakat tentang akan digelarnya Pasar Imlek Semawis 2006. (CIP)