Banyumas, Jatengpress.com – Di balik teror Pocong Merah, berdiri sosok Hendra Lee, sutradara muda kelahiran Ajibarang, Banyumas, yang kini karyanya melangkah ke jaringan bioskop nasional. Berangkat dari kota kecil di Jawa Tengah, Hendra membuktikan bahwa mimpi anak daerah untuk menembus layar lebar Indonesia bukan hal yang mustahil. Identitasnya sebagai “wong Banyumas” bukan hanya latar asal, tetapi menjadi energi utama yang mendorongnya untuk terus berkarya dan mengangkat daerahnya sendiri.
Menurut Hendra sejak awal dia sebagai sineas yang dekat dengan akar budaya lokal dan punya kepedulian besar pada potensi daerahnya. Melalui Pocong Merah, ia sengaja memilih Banyumas dan sekitarnya sebagai lokasi utama syuting, melibatkan banyak talent dan kru lokal agar produksi film ini benar-benar menjadi ruang kolaborasi bagi warga setempat. Ia berulang kali menegaskan bahwa tujuannya adalah menjadikan desa sebagai pusat kegiatan seni, khususnya film, “jangan di Jakarta terus”, sebuah sikap yang menunjukkan keberpihakan pada daerah dan generasi muda di kampung halamannya.
Dalam Pocong Merah, Hendra tidak hanya berperan sebagai sutradara, tetapi juga ikut menulis cerita, menyalurkan pengalamannya sebagai anak daerah yang tumbuh dengan cerita rakyat dan mitos horor di Tanah Jawa. Ia mengolah kisah mistis tentang pocong merah—yang dipercaya sebagai arwah penuh dendam—dengan sentuhan sinematik modern, menjaga keseimbangan antara nuansa tradisi, ketegangan horor, dan kedalaman emosi karakter. Dari cara kamera bergerak menyusuri desa hingga dialog yang lekat dengan keseharian, semua dirancang untuk menghadirkan horor yang terasa dekat dengan kenyataan penonton Indonesia.
” Saya berkomitmen terhadap Banyumas terlihat jelas dari caranya merangkul masyarakat dalam proses produksi. Casting digelar terbuka, ratusan warga mengikuti dengan antusias, dan banyak di antaranya akhirnya terlibat sebagai aktor, figuran, maupun pendukung produksi di lapangan. Proses syuting di Curug Cipendok dan sejumlah titik lain di Banyumas bukan hanya menghadirkan suasana horor di layar, tetapi juga menjadi hiburan dan pengalaman baru bagi warga yang menyaksikan langsung bagaimana sebuah film layar lebar dikerjakan” ujar Hendra saat bincang – bincang dengan Jatengpress.com.
Tayangnya Pocong Merah di bioskop nasional menjadi tonggak penting dalam perjalanan karier Hendra Lee. Dari Ajibarang ke layar lebar seluruh Indonesia, ia membawa nama Banyumas, budaya lokal, dan semangat anak daerah yang enggan kalah oleh keterbatasan. Bagi Hendra, setiap penonton yang membeli tiket bukan hanya menyaksikan film horor, tetapi juga ikut merayakan lahirnya karya dari tanah kelahirannya sendiri. Ke depan, ia berharap Pocong Merah hanya menjadi langkah awal; dari Banyumas akan hadir lebih banyak film lain yang lahir dari tangan-tangan kreatif generasi muda daerah.
Film ini akan tayang 19 Pebruari 2025 ini di bioskop – bioskop seluruh Indonesia, termasuk diantaranya di Banyumas. Jangan lupa nonton ya**







