Oleh: Nanang Anna Noor
Peminat Budaya, Aktor dan Jurnalis
NAMA Bayu SKAK tidak bisa dilepaskan dari sejarah awal YouTube Indonesia. Ia adalah generasi pertama kreator konten yang berhasil melakukan lompatan besar: dari video komedi berbahasa Jawa Timuran ke layar lebar nasional. Sebuah pencapaian yang tidak kecil. Lewat film-filmnya, Bayu SKAK yang punya nama asli Bayu Eko Moektito ini membuka jalan bahwa bahasa daerah—yang dulu dianggap “tidak menjual”—justru bisa diterima secara luas jika dikemas dengan jujur dan kontekstual.
Namun, di titik inilah persoalan mulai muncul. Ketika keberanian artistik bertemu dengan logika pasar digital, Bayu tampak berada di persimpangan: antara konsistensi kualitas atau godaan popularitas instan.
Dari Yowis Ben hingga Ledakan Popularitas.
Kesuksesan besar datang melalui saga Yowis Ben (2018–2021) yang terdiri dari empat film. Menggunakan bahasa Jawa Malang dan humor khas anak muda, film ini bukan hanya sukses secara komersial, tetapi juga secara kultural. Bersama Fajar Nugros, Bayu menunjukkan bahwa lokalitas bukan hambatan, melainkan kekuatan.
Setelah itu, Bayu melangkah lebih jauh lewat Lara Ati, film pertama yang sepenuhnya ia sutradarai dan tulis sendiri. Tema quarter-life crisis yang diangkat terasa lebih personal dan dewasa, kemudian diperluas dalam format serial melalui Loka Drama Lara Ati. Secara naratif, ini adalah fase pendewasaan Bayu sebagai pembuat film.
Eksperimen berlanjut lewat Sekawan Limo, yang mengawinkan horor pendakian gunung dengan komedi khas Bayu, lalu Cocote Tonggo yang mengangkat kehidupan bertetangga dengan bahasa Jawa Mataraman dan latar Solo. Hingga titik ini, satu benang merah tetap konsisten: keberpihakan Bayu pada budaya lokal.
Masalah Mulai Terlihat: Strategi Casting.
Kritik keras mulai mengemuka ketika publik menilai bahwa dalam beberapa proyek terakhir, Bayu terlalu mengandalkan casting berbasis popularitas media sosial. Aktor dan aktris dipilih bukan karena kedalaman akting, melainkan karena jumlah pengikut.
Pola ini kembali dipertanyakan dalam proyek terbarunya, Landasan, yang mengambil latar budaya Ngapak seperti wilayah Banyumas dan sekitarnya. Secara ide, Landasan menjanjikan—ia melanjutkan tradisi Bayu dalam mengangkat bahasa daerah. Namun kekhawatiran publik sama: apakah film ini kembali mengorbankan kualitas akting demi daya jangkau viral?
Viral Tidak Sama dengan Berarti
Masalah utama bukan pada penggunaan influencer itu sendiri, melainkan ketika popularitas dijadikan satu-satunya parameter. Film akhirnya berubah menjadi konten panjang yang bergantung pada trafik, bukan karya yang berdiri di atas akting, cerita, dan penyutradaraan yang matang.
Ironisnya, Bayu sebenarnya sudah membuktikan bahwa ia tidak membutuhkan jalan pintas itu. Yowis Ben dicintai bukan karena aktornya seleb medsos, melainkan karena ceritanya jujur dan karakternya hidup.
Sekarang tinggal menunggu keberanian berikutnya. Karena
Landasan bersama MD Picture dan proyek-proyek mendatang akan menjadi ujian penting bagi Bayu. Apakah ia akan terus bermain aman dengan formula viral, atau kembali ke keberanian awalnya—memberi ruang pada aktor yang mungkin tidak terkenal, tetapi mampu menghidupkan cerita?
Bayu SKAK sudah memenangkan satu pertarungan besar: membuktikan bahwa film berbahasa daerah bisa diterima nasional. Kini, tantangan berikutnya lebih sulit—membuktikan bahwa ia tidak sekadar pembuat film populer, tetapi juga pembuat film yang bertahan dalam waktu.
Ajibarang 022026


