Borobudur Galang Dana Rp 120 Juta untuk Bencana Sumatera

Jatengpress.com, Borobudur – Gelaran
Borobudur Moon edisi spesial malam pergantian tahun 2025/2026, memang memberikan nuansa berbeda dari dua putaran sebelumnya.

Selain menjadi ajang pentas kesenian tradisional, event tersebut juga diwarnai penggalangan donasi bagi korban banjir serta longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Tepat pada pukul 00.00 WIB, sebanyak 2.000 balon diterbangkan serentak ke udara oleh penonton yang berdonasi. Pelepasan diiringi doa sesuai harapan dari masing-masing donatur.

Melambungnya balon warna-warni itu disambut teriakan riang para penonton yang seolah bergeming meski berdiri di bawah guyuran rintik-rintik air hujan.

Sebelumnya telah dilaksanakan doa bersama lintas agama untuk korban bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Yuki Pramudya, panitia penyelenggara, menyebut total donasi yang disalurkan melalui Baznas Kabupaten Magelang sebesar Rp 120.503.762. Rinciannya, donasi on the spot Rp 15.293.500, transfer langsung ke rekening Baznas Rp 37.472.000, serta donasi melalui Korpri Rp 67.738.262.

“Donasi berupa uang cash diserahkan di lokasi acara, sebagian donatur memilih transfer lewat bank, qris atau yang lain,” ujarnya.

Adanya penggalangan donasi tersebut direspon positif oleh Bupati Magelang, Grengseng Pamuji. Donasi, menurut dia, hanya langkah kecil tetapi mampu memberikan manfaat besar bagi yang menerima.

“Ternyata Borobudur Moon juga mampu menumbuhkan empati bagi para korban bencana Sumatera. Hal ini menunjukan bahwa Kabupaten Magelang tak hanya kaya sumber daya alam, namun juga memiliki ikatan rasa yang kuat terhadap sesama anak bangsa,” pujinya.

Atas dasar itu, Grengseng mendorong agar event Borobudur harus bisa terus berlangsung. Karena dia yakin, event (bulanan) itu akan membawa dampak ganda bagi daerah maupun masyarakat Magelang.

Bupati optimistis, Borobudur Moon ke depan akan menjadi event strategis yang dapat memantik berkembangnya dunia pariwisata Kabupaten Magelang. Menjadi data ungkit tumbuhnya sektor perekonomian masyarakat sekitar.

Dia mengakui, Borobudur Moon belum mampu memberikan sajian sempurna. Masih perlu evaluasi dan dibenahi agar semakin menarik dan layak ditampilkan dalam skala yang lebih besar.

“Tentu butuh komitmen bersama, agar event ini nantinya akan terbentuk dalam satu karakter dan mendapat legitimasi bagi budaya pariwisata khas Kabupaten Magelang,” ujarnya.

Tak lupa, bupati menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan dan kerja sama sinergis dengan pengelola Taman Wisata Borobudur dan Museum Cagar Budaya Candi Borobudur.

Sesuai jadwal, pertunjukan malam itu diawali penampilan kesenian tradisional Topeng Ireng, group Majanil Muslimin binaan Disdikbud Kabupaten Magelang. Lalu pentas sendratari Raja Maytribala persembahan dari sanggar seni binaan Museum Cagar Budaya Candi Borobudur.

Sebagai sajian utama adalah sendratari kolosal tentang Ratu Pramodawardhani. Tarian ini melibatkan 150 seniman yang merupakan gabungan dari 15 sanggar seni se Kabupaten Magelang.

Menjelang pelepasan balon ada parade peragaan busana atau Ecoprint Fashion Show yang melibatkan model lintas generasi. (TB)