Pohon Randu Alas Tuksongo Ditebang

Jatengpress.com, Borobudur – Pohon Randu Alas yang menjadi ikon wisata Desa Tuksongo, Borobudur, Magelang, ditebang, pada Senin (02/02/2026).

Penebangan pohon raksasa tersebut melibatkan instansi terkait. Distan dan Pangan; DLH; BPBD; DPUPR. Bappeda, Disparpora, Pemcam Borobudur dan Pemdes Tuksongo.

Sedikitnya, 20 orang tenaga kerja, 5 gergaji mesin, 1 dump truk dan 1 crane dikerahkan ke lokasi, untuk menangani pekerjaan tersebut.

Penebangan dilakukan merujuk point 3 rekomendasi dari Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada (UGM). Yakni, menyisakan 8 meter batang bawah sebagai ikon desa wisata Tuksongo.

Keputusan tersebut ditetapkan dalam pertemuan lintas sektor di Balkondes Tuksongo, Senin (26/01/2026) lalu.

Kepala BPBD Kabupaten Magelang, Edi Wasono, memgatakan, opsi ke-3 dipilih demi tidak mengurangi edukasi wisata dan keindahan Desa Tuksongo.

Kepala Distan-Pangan, Romza Ernawan, mengatakan, ditinjau dari sisi teknis, pohon yang berukuran raksasa itu telah mengalami pelapukan.

Menurut dia, kambium tanaman pada pohon yang menjulang tinggi itu juga sudah nggak ada. Juga terlihat struktur tanaman itu dalam kondisi mati.

“Berdasarkan kajian Tim UGM, pohon yang menjulang tinggi itu mati karena penggerek batang dan ikutan penyakit yang lain,” sebut Romza.

Dia pun setuju sebagian batang pohon nanti tetap dipertahankan, meski perlu mendapat perlakuan khusus sebagai pengganti tanaman yang sudah mati.

Berkaitan adanya tunas baru di bagian pangkal batang pohon, itu karena masih ada suplai udara, karena kulit dan kambium tanaman masih tersedia.

Kepala Disparpora, Mulyanto, menyebut pelapukan pasti ada, tetapi bagaimana sisa batang bawah pohon berumur 250 tahun itu masih bisa dipertahankan.

Pihak Pemerintah Desa Tuksongo akan menyulap kawasan desa wisata itu bisa menjadi lahan mencari nafkah pelaku UMKM.

Kades Tuksongo sangat peduli dan berikhtiar agar ikon desa tersebut bisa memakmurkan masyarakat. “Beliau bertekad agar masyarakat desanya harus berdaya,” katanya.

Menurut Mulyanto, sikap kades yang mengambil opsi 3 dari rekomendasi Tim UGM sebagai langkah bijaksana.
“Randu Alas memang sudah menjadi ikon Desa Tuksongo, tetap terjaga,” ujarnya.

Sebenarnya, tutur Kades Tuksongo, M Abdul Karim, banyak warga tidak ingin pohon yang menjadi ikon wisara desa itu ditebang.

“Tapi karena secara kasat mata pohon itu tidak layak hidup, mau tidak mau, kita harus melangkah demi aspek keselamatan,” ujarnya.

Alasannya, pohon tersebut berada di kawasan wisata dan dekat pemukiman sehingga bisa membahayakan pengguna jalan maupun wisatawan.

Mengenai tunas yang tumbuh di bagian bawah pohon, akan ditanam di tanah Kas Desa di Timur Lapangan Desa Tuksongo.

“Ke depan, lapangan Desa Tuksongo akan ditata, agar lebi baik. Sehingga membuat wisatawan lebih nyaman,” kata M Abdul Karim. (TB)

Terbaru