Jatengpress.com, Asahan – Managenen Perumda Tirta Sikau Piasa (TSP) Asahan, Sumatera Utara optimis, Tahun 2030 dapat memberikan kontribusi PAD ke kas daerah. Namun asalkan target 80 persen jangkauan pelayanan distribusi tercapai.
“Persoalan kita disini sekarang,” ujar Direktur Perumda TSP Asahan Rusfin Arif, Selasa (24/2). Mengalirkan air sampai jauh, seperti penggalan bait lagu Bengawan Solo ciptaan Gesang ini menjadi jawaban untuk mengejar target Tahun 2030
“Ini target kita dalam bisnis plan “ujarnya. Menurut Rusfin, jangkauan pelayanan air Perumda Tirta Silau Piasa belum maksimal. Jangkauan pelayanan baru 23 persen dengan 26 ribu pelanggan aktif berdasarkan data per 31 Desember 2025.
Dia menyebutkan persoalan utama yang kini tengah dihadapi kurangnya sumber air baku. Saat ini, sebutnya, sungai Silau Asahan yang menjadi sumber air baku utama Water Treatment Plant (WTP) Katarina, sebagai pusat pengolahan air bersih Perumda TSP di Kelurahan Sei Rengas Kisaran Barat untuk wilayah perkotaan — tidak lagi berproduksi maksimal.
Debit air semakin kecil karena ketinggian air sungai sudah dibawah intake – saluran pipa intalasi pengolahan. Kondisi ini, menurut Rusfin sudah berlangsung lama dan harus bisa segera diatasi. “Ini harus bisa diselesaikan sesegera mungkin. Karena kalau tidak, bukan hanya berdampak kepada kinerja perusahaan tapi berdampak kepada persediaan air bersih,”ungkapnya
Rusfin memprediksi jika tidak segera diselesaikan dalam rentang waktu 5-10 tahun tak menutup kemungkinan bisa terjadi krisis air bersih untuk wilayah perkotaan. Untung saja selama ini kekurangan air baku tersebut bisa disanggah dengan sejumlah sumur bor yang dibangun Pemerintah Daerah. Meski begitu, ujarnya tentu saja tidak maksimal.
Sumber Air Ada, Tapi Perumda Tak Mampu Beli
Target jangkauan pelayanan 85 persen sudah menjadi target dari Rencana Bisnis (Bisnis Plan) Perumda TSP Asahan 2026-2030. Target ini harus bisa tercapai untuk menjadikan perusahaan daerah satu-satunya milik pemerintah daerah tersebut benar-benar sehat.
Rusfin menegaskan, untuk mengatasi persoalan tersebut dibutuhkan pembangunan WTP baru dengan kapasitas besar. “Salah satu program prioritas kita dalam Renbis 2026-2030 yakni membangun WTP baru dengan memanfaatkan Sungai Asahan sebagai sumber air baku,” katanya.
Dari hasil survey, Perumda TSP Asahan mengusulkan program pembangunan WTP di desa Sei Dua Hulu Kecamatan Simpang Empat kabupaten Asahan dengan kapasitas 500 liter per detik. Dengan kapasitas tersebut WTP Sei Dua Hulu akan mampu melayani 40 ribu pelanggan dengan kalkulasi 80 pelanggan per satu liter per detik. Sungai terbesar ketiga di Sumatera Utara tersebut diprediksi akan mampu menyuplai kebutuhan air untuk mencapai target bisnis 2026-2030.
Rencana pembangunan WTP baru tersebut sebenarnya sudah lama menjadi wacana sebagai solusi dari persoalan masih rendahnya jangkauan pelayanan. Masalahnya, pihak Perumda TSP terbentur persoalan anggaran.
Dia menilai untuk membangun proyek yang bakal menelan anggaran yang tak sedikit itu hanya ada dua skema penganggaran. Yakni APBN dan investasi swasta. Karena menurutnya jika bergantung kepada APBD Pemkab Asahan, dipastikan pemerintah daerah tidak akan mampu untuk membiayai proyek pembangunan infrastruktur Perumda TSP Asahan tersebut.
Rencana pembangunan WTP Sei Dua Hulu pernah ditawarkan kepada investor swasta dengan skema memberikan hak pengelolaan kepada investor dan menjual produksi airnya kepada Perumda. Namun rencana kerjasama itu batal. “Bukan investor yang membatalkan, tapi kita,”bebernya.
Rusfin mengatakan, setelah dilakukan pengkajian, biaya (cost) produksi cukup besar. Perumda TSP harus membeli dengan harga Rp4 ribu per meter kubik dari investor. “Sedangkan saat ini saja kita hanya mampu menjual air ke pelanggan dengan harga Rp2300 per meter kubik, dan ini belum full cost recovery,”jelas Rusfin.
Dengan demikian perusahaan daerah terpaksa harus menyubsidi sebesar Rp1700 per meter kubik. “Ya nggak sangguplah. Dari mana duitnya. Sudah pasti kita tidak mampu meski pun disubsidi oleh Pemerintah Daerah,”ketusnya.
Upaya mengalirkan air sampai jauh sebagai bentuk strategi Perumda TSP Asahan untuk menjadi perusahaan daerah penyumbang PAD kayaknya memang masih perlu waktu. Namun Rusfin dan timnya tetap optimis.
Perusahaan daerah yang sempat nyaris kolaps pada tahun 2013-2014 tersebut akibat krisis keuangan yang diantarannya dipicu dari terjadinya krisis listrik di Sumut-Aceh itu, perlahan pulih dari sakitnya.
Kabag Keuangan Ahmad Rudi optimis target tercapai. Karena dari kondisi sakit parah saja, perusahaan ini perlahan bisa bangkit menuju perusahaan daerah yang sehat. “Namun begitu kita juga tidak muluk-muluk. Jika pun tak tercapai 85 persen, setidaknya jangkauan pelayanan bisa mencapai 45 persen pada tahun 2030,” tegasnya. (Edy G. Hasby)


