SURAKARTA, Jateng press.com – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Kristen Teknologi Solo (BEM UKTS) menggelar seminar “Ketangguhan Komunitas dalam Adaptasi Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana di Kota Surakarta”, Kamis (19/2/2026) di Kelurahan Setabelan. Seminar ini menjadi ajang diskusi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, komunitas pemuda, mahasiswa, dan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan terhadap perubahan iklim dan risiko bencana.

Plh. Wali Kota Surakarta yang diwakili Tulus Widajat, S.E., M.Si, Asisten Perekonomian dan Pembangunan, menekankan pentingnya integrasi adaptasi perubahan iklim dalam pembangunan kota. Menurutnya, Surakarta sebagai kota padat penduduk dan berada di kawasan ekosistem Bengawan Solo menghadapi tantangan banjir, kekeringan, dan peningkatan suhu.
“Pembangunan kota ke depan harus mengintegrasikan adaptasi iklim dan pengurangan risiko bencana, serta memperkuat ruang terbuka hijau dan pengelolaan air yang adaptif,” kata Tulus Widajat.
Seminar menghadirkan tiga narasumber utama. Pdt. Ageng Prasetya Raharjo, S.Pd.K dari JAKOMKRIS PBI menekankan bahwa ketangguhan komunitas lahir dari solidaritas sosial dan aksi kolektif, bukan hanya dari pengetahuan.
“Komunitas yang terfragmentasi akan lebih rentan menghadapi krisis iklim dan bencana,” ujarnya.
Sementara itu, Prasetianingsih Soewarno, SP., M.Si dari Dinas Lingkungan Hidup Surakarta menyatakan bahwa adaptasi iklim harus dimulai dari perilaku masyarakat, termasuk pengelolaan sampah, penghijauan, dan partisipasi aktif warga.
“Pengelolaan sampah dan penghijauan adalah kunci ketangguhan kota,” jelasnya.
Didik Sunarjo, S.E., M.M dari BPBD Surakarta menambahkan, kesiapsiagaan warga harus dibangun sejak pra-bencana melalui edukasi, latihan, dan sistem peringatan dini.
“Masyarakat harus menjadi subjek yang paham risiko dan mampu merespons secara bersama-sama,” tuturnya.
Seminar dimoderatori Yonathan Suryo Pambudi, S.T., M.Si, dosen Teknik Lingkungan UKTS dan Wakil Ketua DPD KNPI Surakarta Bidang Lingkungan Hidup, Energi, dan Pertanian. Ia menekankan pentingnya pelaksanaan di kelurahan agar mahasiswa dan warga dapat terlibat langsung.
“Ketangguhan kota dibangun dari unit terkecil di masyarakat—kelurahan,” kata Yonathan.
Seminar ini juga menjadi momentum deklarasi pembentukan jejaring kolaboratif komunitas pemuda Surakarta untuk menjaga lingkungan, memperkuat adaptasi iklim, dan meningkatkan kesiapsiagaan bencana berbasis masyarakat. Jejaring ini diharapkan menjadi wadah koordinasi dan penguatan aksi nyata secara berkelanjutan.
Dengan kegiatan ini, BEM UKTS berharap terbentuk gerakan kolektif yang mendorong ketangguhan sosial dan ekologis Surakarta, sekaligus meningkatkan kesadaran bahwa pengelolaan lingkungan dan kesiapsiagaan bencana adalah tanggung jawab bersama. (Abdul Alim)






