Jatengpress.com, Surakarta — Pelaksanaan pendidikan inklusif bagi anak tuna grahita di Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan serius, terutama pada tataran praktik pembelajaran di sekolah. Meskipun kebijakan inklusi telah diterapkan secara luas, kesiapan guru dan sistem pendukung pembelajaran dinilai belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan nyata siswa dengan hambatan intelektual.
Hal tersebut disampaikan oleh Aprieska Diva Pratama, mahasiswa Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), saat dimintai tanggapan mengenai implementasi pendidikan inklusif di sekolah reguler. Menurutnya, masalah utama bukan terletak pada konsep inklusi, melainkan pada lemahnya dukungan terhadap guru sebagai pelaksana utama di kelas.
“Banyak sekolah sudah menerima siswa tuna grahita, tetapi belum diikuti dengan penyesuaian kurikulum, metode mengajar, dan evaluasi. Akibatnya, siswa hadir di kelas secara fisik namun tidak terlibat secara bermakna dalam pembelajaran,” jelas Aprieska, Senin (5/1)
Ia menambahkan bahwa guru sering kali belum dibekali pelatihan yang memadai terkait strategi pembelajaran berbasis bukti untuk anak tuna grahita. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak dengan hambatan intelektual tetap memiliki potensi akademik dan sosial yang dapat berkembang apabila mendapatkan pendekatan yang tepat, terstruktur, dan konsisten.
Selain aspek akademik, Aprieska menyoroti pentingnya dukungan perilaku dan komunikasi dalam pembelajaran inklusif. Menurutnya, perilaku menantang yang kerap muncul pada siswa tuna grahita sering disalahartikan sebagai masalah disiplin, padahal merupakan bentuk komunikasi dari kesulitan memahami instruksi atau mengekspresikan kebutuhan.
“Jika guru hanya merespons dengan hukuman, masalah tidak akan selesai. Yang dibutuhkan adalah modifikasi pembelajaran dan lingkungan kelas agar lebih ramah terhadap kebutuhan siswa,” ujarnya.
Lebih lanjut, Aprieska menekankan bahwa keberhasilan pendidikan inklusif seharusnya tidak hanya diukur dari capaian nilai akademik. Peningkatan kemandirian, partisipasi sosial, rasa percaya diri, dan kualitas hidup siswa juga perlu menjadi indikator utama keberhasilan.
“Pendidikan inklusif yang ideal adalah pendidikan yang memanusiakan. Anak tuna grahita tidak hanya belajar untuk mencapai target akademik, tetapi untuk hidup lebih mandiri dan bermartabat di masyarakat,” pungkasnya.
Dengan penguatan kapasitas guru, lanjutnya, penerapan strategi berbasis bukti, serta perubahan paradigma keberhasilan belajar, pendidikan inklusif bagi anak tuna grahita diharapkan tidak lagi sekadar menjadi kebijakan administratif, melainkan praktik nyata yang berdampak positif bagi perkembangan peserta didik.(Abdul Alim)






