5 Hari Terisolasi Banjir Bandang, Perjalanan Bermakna Timotius Suryadi Berubah Jadi Kisah Kemanusiaan

Jatengpress.com, Tapanuli Selatan —Kisah pasangan pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN) asal Kabupaten Karanganyar Timotius Suryadi dan istrinya, Endar, untuk memulai perjalanan darat melintasi Nusantara dari Titik Nol Sabang berubah menjadi pengalaman penuh ujian ketika keduanya terjebak banjir bandang di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Karanganyar yang baru purna tugas per 1 November 2025 itu harus tertahan di jalan selama lima hari empat malam akibat akses yang lumpuh total.

Perjalanan yang diniatkan sebagai momen refleksi dan rasa syukur ini justru membuka babak baru penuh makna bagi Timotius. Ia menyebut petualangannya sebagai “perjalanan bermakna yang sudah lama ada di dalam wishlist berdua.”

Pasangan ini berkisah bahwa rute Bukittinggi-Padang Sidempuan yang seharusnya ditempuh sekitar delapan hingga sembilan jam berubah menjadi perjalanan panjang dan melelahkan.

Sejak meninggalkan Bukittinggi menuju Kabupaten Pasaman, mereka mulai menemui tantangan berupa longsor dan pohon tumbang di sejumlah titik.

“Sejak dari Agam ke Pasaman sudah banyak longsor. Masih bisa lewat, tapi sudah terasa bahwa daerah ini punya PR besar soal infrastruktur dan kerawanan bencana,” ujar Timotius menceritakan pengalamannya, Sabtu (29/11/2025).

Situasi memburuk saat memasuki Kecamatan Sayur Matinggi, Tapanuli Selatan. Hujan deras berhari-hari mengakibatkan banjir bandang besar yang memutus total akses Jalan Lintas Sumatera. Ratusan kendaraan tertahan tanpa kepastian waktu.

Tak bisa menuju Sumatera Utara dan tak mungkin kembali ke Sumatera Barat, pasangan ini bertahan di Desa Aek Limbung. Di tengah keterbatasan, Timotius dan Endar ikut bergotong royong bersama warga membuka dapur umum dadakan untuk memenuhi kebutuhan makan para pengemudi dan warga yang terisolasi.

“Kami menjadi keluarga di situ. Rasanya bahagia sekali bisa bertemu orang-orang baik, orang tulus yang menerima kami sebagai bagian dari mereka. Kami melihat banyak pengemudi kehabisan bekal, tapi semuanya tetap sabar dan saling bantu. Itu pelajaran berharga, ” katanya.

Selama tiga malam, mereka menyaksikan air naik hingga menggenangi rumah-rumah warga, sementara upaya pembersihan jalur tak bisa dilakukan karena arus air terlalu deras.

Di hari kelima, alat berat akhirnya berhasil membuka akses jalan yang tertimbun material longsor. Namun perjalanan masih menyajikan pemandangan memilukan. Ratusan rumah terdampak, kebun warga rusak, dan genangan banjir bandang terlihat di banyak titik sepanjang 40 kilometer.

“Perjalanan ini membuat kami sadar, manusia itu kecil dan rapuh. Jangan sombong, jangan merasa paling kuat. Saya berharap warga yang terdampak diberi kekuatan, dan semua pihak bisa mengambil pelajaran dari bencana ini,” lanjutnya.

Timotius juga berniat mendokumentasikan seluruh pengalamannya melalui kanal YouTube pribadinya, “Perjalanan Bermakna”, agar menjadi catatan inspiratif bagi banyak orang. (Abdul Alim)

Terbaru